Peluang Besar, Pengusaha Diminta Manfaatkan 22 Perjanjian Dagang

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 23 Maret 2021 16:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 23 320 2382739 peluang-besar-pengusaha-diminta-manfaatkan-22-perjanjian-dagang-P2txHA6Tvh.jpg Perjanjian Perdagangan IK-CEPA. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pemerintah sudah merampungkan 22 perjanjian dagang dengan beberapa negara dan kawasan di dunia. Kementerian Perdagangan kini sedang fokus untuk menyelesaikan beberapa perjanjian perdagangan yang masih dalam proses.

Menurut Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga, dengan beberapa perjanjian yang sudah rampung ini, diharapkan bisa segera dimanfaatkan para pelaku usaha. Karena dengan perjanjian perdagangan ini, Indonesia mendapatkan keringan ketika akan mengirimkan barangnya.

Baca Juga: Mendag Pastikan Pasar Perdagangan di RI Tak Ada Kecurangan

Salah satu keringanan yang didapat dari perjanjian perdagangan ini adalah fasilitas keringanan bea masuk. Sebagai salah satu contohnya adalah perjanjian dagang Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), di mana terdapat 6.974 pos tarif produk Indonesia di kenakan 0%.

Menurut Jerry, perjanjian perdagangan ini akan sangat percuma jika hanya dibiarkan saja. Oleh karena itu, dirinya meminta kepada para pengusaha untuk memanfaatkan fasilitas keringan ini dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang akan diekspor

Baca Juga: 11 Perjanjian Dagang Internasional Rampung Tahun Ini

Manfaat lain yang didapat selain sektor perdagangan yakni visa para pelajar yang sebelumnya hanya kuota terbatas kini jadi lebih besar. Hal ini bisa membuat lebih banyak pelajar dari Indonesia untuk melakukan studi di Australia

"Artinya, kalau kita mau ekspor ke sana (Australia) tarif (bea masuk) itu nol. Ini memberikan motivasi kepada eksportir kita," ujarnya dalam acara m Forum Strategi Pengembangan Ekspor Nasional dan Sosialisasi IA-CEPA, Selasa (23/3/2021).

Selain IA-CEPA, Jerry juga mencontohkan perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang disahkan sejak 15 November 2020. Perjanjian itu melibatkan 10 negara ASEAN dengan lima negara non ASEAN.

"Itu blok terbesar kedua setelah WTO. Bayangkan ada lima negara di luar ASEAN yang tertarik berpartisipasi. Itu artinya Indonesia sebuah negara yang potensial dan pasarnya besar," kata Jerry.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini