BUMN Karya Rugi Karena Penugasan Tak Sesuai

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Senin 05 April 2021 13:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 05 320 2389555 bumn-karya-rugi-karena-penugasan-tak-sesuai-ajfsC5b4Ih.jpeg Infrastruktur (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Perusahaan BUMN Karya mengalami kerugian tahun kemarin. Adapun laporan keuangan yang dirilis perusahaan konstruksi BUMN di antaranya, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Waskita mengalami kerugian hingga Rp7,3 triliun. Padahal, pada 2019 perseroan mampu mengantongi laba bersih Rp 938 miliar.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, laba perseroan terkontraksi dari Rp2,28 triliun menjadi kurang dari Rp185,76 miliar. Sementara itu, kinerja keuangan PT PP (Persero) mengalami penurunan dari Rp819,4 miliar menjadi Rp128,7 miliar.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, kerugian yang dialami badan usaha sektor konstruksi disebabkan karena penugasan pemerintah yang dibarengi dengan asumsi pertumbuhan ekonomi nasional yang tidak sesuai. Penugasan pembangunan proyek infrastruktur sebelum hingga saat terjadi pandemi Covid-19 sejak awal 2020 lalu.

Baca Juga: BUMN Karya Merugi, Dahlan Iskan: Sumber Pendanaan Sudah Mentok

"Salah satu faktor kerugian karena penugasan proyek pemerintah dan asumsi awal yang tidak sesuai. Penugasan itu sangat berat apalagi salah asumsi karena selalu pada saat uji kelayakan modelnya optimistis. Ekonomi tumbuh 7-8%, kemudian akan terjadi kenaikan permintaan industri dan daya beli masyarakat," ujar Bhima saat dimintai pendapatnya, Senin (5/4/2021).

Dalam asumsi makro pertumbuhan ekonomi, pemerintah memasang target di atas 5%. Ada tiga hal yang dikejar Jokowi untuk merealisasikan asumsi tersebut yakni, iklim investasi, regulasi, dan peningkatan ekspor berbasis industri.

Namun demikian, proyeksi itu tidak sesuai lantaran Indonesia masuk dalam jurang resesi akibat pandemi Covid-19. Dimana, Produk Domestik Bruto (PDB) di kuartal III-2020 minus 3,49% year on year (yoy). Kontraksi ini menyusul realisasi yang sama pada kuartal sebelumnya, ekonomi Indonesia tercatat minus 5,32% secara tahunan.

Baca Juga:  Dahlan Iskan Soroti Keuangan BUMN Karya: Tinggal Tunggu Waktu, Sulit atau Sulit Sekali

Fakta lain sebelum pandemi, inflasi dalam negeri tercatat rendah karena permintaan tertekan. Hal ini, kata Bhima, akibatnya utilitas proyek konstruksi menjadi rendah.

"Tidak sesuai proyeksi awal. Pemerintah masih saja optimis dan korbankan BUMN. Akibatnya utilitas jalan tol dan proyek lain rendah. Bayangkan jalan tol dibangun tapi angkutan logistik masih memilih jalan arteri, bandara sepi penumpang. Pasti bleeding BUMN-nya," kata dia.

Meski begitu, BUMN Karya dinilai tidak akan bangkrut. Sebab proyek yang digarap akan dijamin negara. "Masalah akan muncul ketika risiko kontinjensi membesar, dimana, ujungnya APBN dari pajak rakyat akan dipakai untuk talangi BUMN atau proyek yang bermasalah. Risiko kontinjensi akan berakibat kemana-mana termasuk kepercayaan untuk membeli surat utang pemerintah," katanya.

Senada, pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto mencatat, kinerja BUMN Karya yang buruk di 2020 sudah diprediksi sejak awal. Periode 2020 adalah periode buruk akibat Covid-19, dimana, pemerintah secara masif menerapkan PSBB.

Kebijakan itu berdampak pada ruang gerak bisnis seperti sektor properti dan infrastruktur. Akibatnya hampir seluruh nilai sales terpangkas jatuh dan sebagian profit turun tajam bahkan sebagiannya merugi.

Dia menilai, sebelum Covid-19, seluruh BUMN Karya ditugaskan untuk menggarap proyek Infrastruktur. Problemnya penyediaan anggaran atau financing kegiatan ini tidak sepenuhnya ditanggung pemerintah, tapi BUMN harus mencari sumber pendanaan sendiri.

"Akibatnya hutang menggunung dan DER sangat tinggi, bisa di atas 3 kali. Mengapa demikian? Karena proyek infrastruktur bersifat jangka panjang, return juga baru akan kembali dalam jangka panjang," tutur dia.

Karena itu, pemerintah dinilai segera membayar biaya investasi yang telah dikeluarkan BUMN Karya salam penugasan infrastruktur. Hal ini akan membantu cash flow perseroan untuk menjalankan bisnis di 2021 dan ke depannya.

"Solusi lain sebagian proyek investasi yang sudah selesai bisa di offer ke LPI atau SWF yang segera akan beroperasi. Ini akan membantu aspek pembiayaan BUMN Karya tersebut," ujar Toto.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini