5 Fakta Parahnya Laporan Keuangan BUMN Karya, Ada yang Rugi Rp7,3 Triliun

Fariza Rizky Ananda, Jurnalis · Sabtu 10 April 2021 06:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 09 278 2391953 5-fakta-parahnya-laporan-keuangan-bumn-karya-ada-yang-rugi-rp7-3-triliun-FAKX5pibiy.jpg Laporan Keuangan BUMN Karya Anjlok (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Laporan keuangan sejumlah BUMN di sektor konstruksi (BUMN Karya) mengalami penurunan yang sangat tajam. Hal tersebut diketahui setelah laporan keuangan tahun 2020 dirilis beberapa perusahaan konstruksi BUMN tersebut.

Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menyoroti kinerja keuangan BUMN Karya yang anjlok. Terkait isu tersebut, Okezone telah merangkum beberapa faktanya, Sabtu (10/4/2021).

1. Penyebab BUMN Karya Banyak yang Merugi

Dahlan Iskan mencatat, ada beberapa sebab meruginya BUMN. Salah satunya bunga bank yang tinggi. Menurut Dahlan, dalam pengerjaan proyek manajemen membutuhkan modal yang besar. Sumber pendanaan itu hanya bisa diperoleh melalui pihak ketiga, salah satunya melalui perbankan.

Baca Juga: Disentil Dahlan Iskan, Begini Parahnya Kondisi Keuangan BUMN Karya 

Dana bank menjadi nafas bisnis konstruksi. Namun, sekuat-kuatnya bank, dia tetap tunduk pada mekanisme perbankan. Artinya, ada batas dalam jumlah pemberian kredit pada satu group perusahaan.

"Ketika perusahaan sudah tidak bisa pinjam dana bank, karena sudah capai batas atas, maka bencana tahap satu pun datang. Ketika bencana tahap satu itu datang, harapan tinggal pada obligasi, medium term notes (MTM) dan sejenisnya. Tapi pemilik dana obligasi pun tahu, mana perusahaan yang masih bisa cari pinjaman bank dan mana yang sudah mentok," katanya.

2. Rincian Laporan Keuangan BUMN Karya

Adapun laporan keuangan tahunan yang dirilis perusahaan konstruksi pelat merah. PT Waskita Karya (Persero) Tbk mengalami kerugian hingga Rp7,3 triliun. Padahal, pada 2019 Waskita Karya mampu mengantongi laba bersih Rp 938 miliar.

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatat kinerja keuangan yang lesu pada 2020. Perusahaan ini mencatat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp23,98 miliar. Laba tersebut turun Rp639,83 miliar atau 96,39% dibandingkan tahun 2019.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, laba perseroan terkontraksi cukup drastis. Laba WIKA merosot 91,87% pada 2020. Di mana, WIKA hanya meraup laba Rp128,7 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp819,49 miliar.

Sementara itu, kinerja keuangan PT PP (Persero) juga mengalami penurunan. Pada laporan keuangan kuartal IV-2020 perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp128,75 miliar atau lebih rendah 84,28% dibanding 2019 sebesar Rp819,46 miliar.

3. BUMN Bisa Gunakan Alternatif Pendanaan Lain yang Lebih Murah

Karena adanya batasan jumlah pemberian kredit dan bunga yang tinggi, Dahlan Iskan menyatakan ada sumber pendanaan lain bagi BUMN yang tergolong lebih murah jika dibandingkan dengan pinjaman bank dan obligasi. Dana yang dimaksud Dahlan adalah sub kontraktor.

Karena itu, Indonesia Investment Authority (INA) atau Sovereign Wealth Fund (SWF) diharapkan menjadi wadah alternatif bagi pendanaan BUMN. Anggaran yang nantinya dihimpun yang berasal dari Amerika Serikat (AS), Uni Emirat Arab, Kanada, dan Jepang, akan menjadi sumber pendanaan BUMN Karya dan sektor lainnya.

 

4. Penugasan Penyebab BUMN Karya Merugi

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, kerugian yang dialami badan usaha sektor konstruksi disebabkan karena penugasan pemerintah yang dibarengi dengan asumsi pertumbuhan ekonomi nasional yang tidak sesuai. Penugasan pembangunan proyek infrastruktur sebelum hingga saat terjadi pandemi Covid-19 sejak awal 2020 lalu.

"Salah satu faktor kerugian karena penugasan proyek pemerintah dan asumsi awal yang tidak sesuai. Penugasan itu sangat berat apalagi salah asumsi karena selalu pada saat uji kelayakan modelnya optimistis. Ekonomi tumbuh 7-8%, kemudian akan terjadi kenaikan permintaan industri dan daya beli masyarakat," ujar Bhima saat dimintai pendapatnya, Senin (5/4/2021).


5. Solusi untuk Permasalahan Keuangan BUMN Karya

Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menilai pemerintah harus segera membayar biaya investasi yang telah dikeluarkan BUMN Karya salam penugasan infrastruktur. Hal ini akan membantu cash flow perseroan untuk menjalankan bisnis di 2021 dan ke depannya.

"Solusi lain sebagian proyek investasi yang sudah selesai bisa di offer ke LPI atau SWF yang segera akan beroperasi. Ini akan membantu aspek pembiayaan BUMN Karya tersebut," ujar Toto.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini