JAKARTA - Sepanjang tahun 2020, PT Pertamina (Persero) telah melakukan berbagai upaya menghadapi tantangan dampak pandemi yang mempengaruhi penurunan permintaan BBM, harga minyak dunia, serta nilai tukar Rupiah.
Melalui implementasi transformasi, efisiensi, dan akuntabilitas secara konsisten, Pertamina berusaha adaptif sehingga dapat menjaga kelancaran operasional, termasuk menjalankan penugasan Pemerintah, serta mempertahankan kinerja keuangan yang positif pada akhir tahun.
Senior Vice President Corporate Communications & Investor Relations Pertamina Agus Suprijanto mengatakan Pertamina menetapkan anggaran belanja modal perusahaan (Capital Expenditure/Capex) mencapai USD10,7 miliar atau setara Rp155 triliun (kurs Rp14.500) pada tahun 2021 atau dua kali lipat dari prognosa realisasi Capex tahun lalu yang senilai USD4,7 miliar.
"Banyak sekali yang sudah dijalankan dan akan terus dilanjutkan Pertamina untuk beradaptasi dengan kondisi terkini. Dengan fundamental yang baik, memasuki 2021 Pertamina langsung mengakselerasi kinerja operasional untuk mencapai target pertumbuhan tinggi, lebih dari 20%," ujar Senior Vice President Corporate Communications & Investor Relations Pertamina, Agus Suprijanto di Jakarta, (12/4/2021).
Baca Juga: Erick Thohir Ingin Nilai Pasar Pertamina Tembus Rp1.458 Triliun
Agus menjelaskan, dari total USD10,7 miliar, 46% bagian tersebut akan didedikasikan untuk kegiatan hulu migas sebagai upaya memastikan peningkatan produksi serta cadangan migas sehingga dapat berdampak pada penurunan impor minyak mentah nasional. 36% lainnya akan dialokasikan untuk melanjutkan pengembangan kilang & petrokimia, sedangkan 18% akan diserap untuk kegiatan bisnis lainnya, termasuk melanjutkan pengembangan energi baru dan terbarukan.
“Anggaran tersebut menunjukkan optimisme Pertamina yang tinggi untuk tetap tumbuh dan bangkit di tengah pandemi Covid-19 dengan melanjutkan proyek atau pengembangan bisnis yang telah jalan sejak tahun sebelumnya dan pada saat bersamaan, menciptakan program inisiatif baru,” ujar Agus.