Anjuran Nabi Muhammad SAW dalam Memilih Tempat Usaha dan Distribusi Produk

Fariza Rizky Ananda, Jurnalis · Selasa 20 April 2021 07:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 19 455 2397118 anjuran-nabi-muhammad-saw-dalam-memilih-tempat-usaha-dan-distribusi-produk-s29ei4zHuq.jpg Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA – Konsep tempat penjualan atau berbisnis harus ditentukan pengusaha sebelum atau seiring berjalannya usaha. Sebelum merilis produk ke pasaran, pengusaha harus menentukan di mana dia akan menjual produk barang atau jasanya. Dia juga bisa mengubah atau menambah tempat usaha jika hal tersebut diperlukan.

Konsep tempat dapat diartikan sebagai pemilihan tempat atau lokasi usaha. Perencanaan pemilihan lokasi yang baik tidak hanya berdasar pada istilah strategis, melihat jarak dengan pusat kota atau mudah tidaknya akomodasi. Pengusaha juga harus berdasar kepada kelebihan dan kekurangan perusahaannya.

Baca Juga: Strategi Dagang Nabi Muhammad SAW, Kenalkan Produk pun Dilakukan

Selain itu, konsep tempat ini juga bisa diartikan sebagai distribusi. Distribusi adalah bagaimana produk barang atau jasa sampai pada pengguna terakhir (end-user) atau pelanggan, dengan biaya yang seminimal mungkin tanpa mengurangi kepuasan pelanggan dan keseimbangan keuangan perusahaan.

Dilansir dari buku Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, Senin (19/4/2021), hal yang perlu diperhatikan dari proses distribusi adalah setiap jaringan, relasi, agen dan distributor termasuk pelanggan harus mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari pihak perusahaan. Ikatan yang terjalin dengan baik akan semakin mengefektifkan proses distribusi.

Baca Juga: Begini Cara Menentukan Waktu yang Tepat Memulai Usaha

Bagi seorang pemasar, tempat adalah bagaimana menempatkan produk atau jasa pada lokasi yang tepat dengan jumlah yang tidak berlebihan sesuai dengan permintaan pasar yang telah diperkirakan dengan biaya yang minimal dan kepuasan yang maksimal. Pada abad tujuh masehi lalu, Nabi Muhammad telah menekankan beberapa hal terkait tempat usaha dan distribusi dalam berbisnis.

Pada zaman tersebut, telah ada kecenderungan orang untuk memotong jalur distribusi. Hal ini membuat Nabi Muhammad melarang mencegat pelanggan sebelum tiba di pasar, dan melarang orang kota membeli dagangan orang desa, dengan tujuan menghindari adanya tengkulak (perantara).

Pemotongan jalur distribusi bisa merugikan beberapa pihak. Contohnya jika pergi ke pasar lalu membeli sayur langsung kepada petani yang datang membawa hasil taninya, berarti kita memotong jalur distribusi petani dan merugikan pedagang kios walaupun kita bisa mendapat barang yang murah. Inilah yang dihindarkan oleh Nabi Muhammad.

Selain itu, menjadi perantara dengan maksud mendapat keuntungan dari transaksi dengan cara yang tidak baik juga tidak boleh. Menurut Nabi Muhammad, transaksi yang baik adalah yang di dalamnya tidak ada pihak yang dirugikan dan saling menguntungkan. Beliau bersabda, “Tidak boleh orang kota menjadi perantara niaga bagi orang desa. Biarkanlah orang memperoleh rezeki Allah satu dari yang lainnya” (HR Muslim, dari Jabir Ra).

Perantara yang dimaksud adalah tengkulak atau calo. Cara kerjanya dengan membeli hasil bumi pada saat belum matang. Dengan membeli barang tersebut, tengkulak bisa dapat harga yang murah dan bisa menjual kembali dengan harga yang tinggi saat sudah matang.

Nabi Muhammad menekankan bahwa proses distribusi harus sesuai dengan kesepakatan bersama dan tidak ada pihak yang dirugikan, baik dari pihak produsen, distributor, agen, penjual, dan konsumen.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini