Tekan Serbuan Impor, Penggunaan Produk Logam SNI Digencarkan

Ferdi Rantung, Jurnalis · Selasa 20 April 2021 22:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 20 320 2397833 tekan-serbuan-impor-penggunaan-produk-logan-sni-digencarkan-Sh62ge1tpu.jpeg Pelabuhan (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Perindustrian mendorong produk logam bersertifikat standar nasional Indonesia (SNI). Hal ini dilakukan untuk mencegah serbuan impor masuk ke tanah air

"Tercatat industri logam dasar tumbuh 11,46 persen dengan meningkatnya permintaan luar negeri. Oleh karenanya, pemerintah bertekad untuk terus melindungi industri dalam negeri dari serbuan produk impor," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangan resmi diterima di Jakarta, Selasa (20/4/2021).

Baca Juga: Wow! Impor RI Maret Tembus USD16,7 Miliar, Naik 25%

Menperin menyatakan diperlukan instrumen yang mampu memacu daya saing produk nasional sekaligus menjaga kesehatan serta keselamatan konsumen dan lingkungan, termasuk di sektor industri logam.

"Dengan tetap mengedepankan azas fairness dalam perdagangan internasional, implementasi SNI wajib bertujuan untuk meningkatkan akses pasar luar negeri dan menekan laju impor," terangnya.

Baca Juga: Ekspor Indonesia Capai USD18,35 Miliar di Maret 2021, Meroket 30%!

Penerapan instrumen berupa pemberlakuan SNI secara wajib, fokus utamanya adalah untuk produk-produk yang berkaitan dengan keamanan, kesehatan, keselamatan, dan lingkungan (K3L).

"Dalam rangka mendorong industri logam nasional yang berdaya saing tinggi, perlu diciptakan iklim usaha yang kondusif dan kompetitif guna mendongkrak utilisasi serta kemampuan inovatif pada sektor tersebut," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin Doddy Rahadi menyampaikan nilai impor untuk HS produk SNI wajib pada 2020 sebesar Rp102 triliun, menurun dibandingkan 2019 sebesar Rp133 triliun.

"Meskipun nilai impornya menurun, saat ini terdapat 147 kode HS yang tersebar pada 28 SNI wajib sektor logam," ujarnya.

Untuk itu, diperlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan terkait dalam mendukung pertumbuhan industri baja nasional.

"Sehingga, tidak ada celah lagi membanjirnya produk-produk impor yang tidak berkualitas ke pasar dalam negeri," kata Doddy

Lebih lanjut, penerapan SNI wajib pada produk logam juga bertujuan untuk merealisasikan target substitusi impor sebesar 35 persen pada 2022.

"Pembatasan impor terutama untuk produk yang sudah dapat diproduksi oleh industri dalam negeri perlu diperkuat," imbuhnya.

Kemenperin menargetkan sektor industri logam dasar dapat tumbuh sebesar 3,54 persen pada 2021. Hal ini menunjukkan industri baja merupakan sektor high resilience yang mampu bertahan di tengah pandemi COVID-19 dan siap untuk kembali meningkatkan kemampuan dan performanya pada tahun ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini