Share

LPS Bakal Hapus Iuran Premi Penjaminan Bank tapi Ada Syaratnya

Hafid Fuad, Sindonews · Jum'at 23 April 2021 13:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 23 320 2399436 lps-bakal-hapus-iuran-premi-penjaminan-bank-tapi-ada-syaratnya-7jITIthvPb.jpg Rupiah (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan, pihaknya masih mengkaji bebas premi simpanan. Namun pada dasarnya ruang untuk melaksanakan hal tersebut terbuka.

“Perubahan tingkat premi akan dikonsultasikan dengan DPR. Pertimbangan kami, kalau itu bisa berdampak positif bagi perbankan, dan pemulihan ekonomi bisa lebih cepat, maka hal itu layak kita tempuh,” ujar Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi di Jakarta, Jumat (23/4/2021).

Tetapi menurutnya ada syaratnya. Antara lain bank harus lebih aktif menyalurkan kredit. “Syaratnya, dana di perbankan tadi benar-benar disalurkan dalam bentuk kredit dan tidak disimpan kembali di BI, jadi hal itu dahulu yang saat ini kita cermati apakah perbankan sudah agresif menyalurkan kredit, jika perbankan sudah mulai proaktif menyalurkan kreditnya dan sudah mulai mengurangi penempatan dana di BI, maka kami pun akan dengan agresif mengejar kebijakan tersebut,” jelasnya.

Baca Juga: Tabungan Penduduk Masyarakat RI Tembus Rp6.701 Triliun 

Saat ditanyakan apakah kebijakan itu apabila nantinya diterapkan akan berpengaruh bagi kinerja LPS, dia menyatakan dalam ruang lingkup yang lebih luas, kebijakan itu dinilai tidak akan berpengaruh, bahkan menurutnya apabila LPS dapat membantu industri perbankan, maka hal ini akan mengurangi kemungkinan beban resolusi bagi LPS di masa depan.

Menurutnya saat ini pertumbuhan kredit masih negatif, para pelaku usaha belum merasakan penurunan bunga yang cukup signifikan walaupun bunga deposito sudah turun.

Dia mengatakan pemerintah juga akan selalu berusaha untuk terus menumbuhkan optimisme kepada pasar, agar para pelaku bisnis berani mengambil resiko untuk meminjam kembali kepada perbankan.

Ditanya mengenai kinerja LPS saat ini, dia menyatakan kinerja LPS masih cukup baik, mengingat kondisi yang juga menurutnya relatif normal.

“Total aset dan total investasi LPS terus mengalami peningkatan. Per Maret 2021, total aset LPS mencapai Rp148,96 triliun. Dan tahun ini kita perkirakan apabila tidak ada sesuatu yang istimewa atau perubahan yang sifatnya material, total aset dan cadangan penjaminan LPS diproyeksikan meningkat menjadi Rp 160,18 triliun,” katanya.

Menurutnya LPS saat ini melihat tanda positif yang mengindikasikan pergerakan ekonomi ke arah lebih baik, yaitu adanya tren shifting dari simpanan deposito ke bentuk giro.

“Pertumbuhan giro yang tinggi, disertai oleh penurunan deposito, memberi indikasi bahwa para pelaku ekonomi mulai siap-siap melakukan ekspansi dengan menambah dana yang siap pakai dalam waktu dekat. Ini suatu hal yang positif dalam perekonomian kita, jadi kita harus menjaga optimisme masyarakat, agar ekonomi kita betul-betul bisa bergerak lebih cepat,” ujarnya.

Sementara itu, mengenai BPR yang gagal menurutnya, angkanya masih dalam batas rata-rata.

“Dari evaluasi kami biasanya dikarenakan ada fraud dari pengurus BPR, jadi sedikit sekali kegagalan bank tersebut yang disebabkan oleh krisis atau ekonomi yang memburuk,” ujarnya.

Menurutnya lembaganya akan mempelajari situasi ini dan jika keadaan masih berlanjut maka akan dilakukan langkah-langkah untuk memperbaiki keadaan ini.

“Kami akan memberikan edukasi terhadap pengurus BPR tentang manajemen BPR yang baik. Pesan kami kepada BPR, apabila ada fraud, pemilik BPR harus bayar (kerugian tersebut) dan mereka tidak bisa lari dari tanggung jawab mereka,” tambahnya.

Menjawab pertanyaan tentang proyeksi pertumbuhan ekonomi terhadap pertumbuhan kredit perbankan, menurutnya kebijakan Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral untuk mempertahankan suku bunga di level sekarang sudah tepat.

“Secara global ada tren suku bunga naik, dan kalau kita turunkan sekarang, dikhawatirkan akan menimbulkan sentimen negatif terhadap perekonomian kita. Jika kita bekerja maksimal maka pertumbuhan kredit di angka 5% atau lebih masih bisa diraih. Untuk itu kredit harus tumbuh positif dari sebelumnya yang negatif di bulan Februari yang -2,15%. Kalau itu tercapai, kami yakin prospek pertumbuhan ekonomi kita akan semakin menguat secara drastis,” ujarnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini