Mudik Dilarang, Pengusaha Gigit Jari Banyak Tamu Cancel Pesanan Hotel

Avirista Midaada, Jurnalis · Selasa 27 April 2021 16:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 27 320 2401664 mudik-dilarang-pengusaha-gigit-jari-banyak-tamu-cancel-pesanan-hotel-qQ9MBYV3Mf.jpg Pengusaha Hotel Kecewa Mudik Lebaran Dilarang. (Foto: Okezone.com/Avirista)

KOTA BATU – Ekspetasi pelaku perhotelan di Malang raya untuk meningkatkan pendapatan saat libur Lebaran pupus. Sebab, pemerintah memutuskan untuk melarang mudik.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariyadi mengakui, adanya larangan mudik membuat sejumlah tamu membatalkan pemesannya saat libur Lebaran. Sejumlah tamu yang membatalkan pesanannya kebanyakan berasal dari wilayah Surabaya raya, seperti Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Gresik, dan Lamongan.

“Dari Surabaya raya banyak yang cancel, karena aglomerasinya beda, nggak bisa masuk. Yang bisa kan hanya Malang raya, eks karasidenan kayak Pasuruan kota kabupaten, Probolinggo kota kabupaten, dan Lumajang. Yang cancel ya lebih 50 persen,” ucap Sujud dikonfirmasi pada Selasa siang (27/4/2021).

Baca Juga: Hotel Kian Sepi Efek PPKM, Ancaman PHK di Depan Mata

Bila dikalkulasikan perkiraannya okupansi hotel di Kota Batu di kisaran 30%. Namun pihaknya masih bersyukur bisa sedikit bernapas dibandingkan periode jelang lebaran di tahun 2020 lalu.

“Lebih baiklah dibandingkan tahun lalu, kita tutup total (lebaran tahun lalu). Sekarang mending masih ada yang masuk, daerah Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, yang masih aglomerasi Malang raya bisa masuk. Harapannya sedikit - sedikit masih ada, bahkan lebih baik di lebaran tahun,” terangnya.

Baca Juga: Selain PPKM, Pengusaha Hotel Permasalahkan Rapid Test Antigen

Di Kota Malang, Ketua PHRI Kota Malang Agoes Budi mengakui pula adanya pengaruh okupansi hotel dan wisata di Kota Malang terkait kebijakan larangan mudik. Meski pun di sisi lain, pemerintah pusat menginginkan wisata tetap berjalan sebagaimana biasanya, demi menjaga perputaran ekonomi di daerah.

“Memang banyak pengaruhnya, dengan biasanya budaya mudik dari luar menuju Malang, diimbangi tempat - tempat akomodasi, tempat kuliner. Malang ini salah satu tujuan mudik bagi orang - orang yang keluarganya ada di Malang, pengaruhnya cukup besar sekali,” bebernya.

Agoes menambahkan, adanya larangan mudik membuat pihaknya mengandalkan tamu – tamu hotel yang berasal dari wilayah Malang raya dan eks karisidenan Malang. Namun diakui sejauh ini belum ada pembatalan pesanan dari calon tamu yang hendak menginap di hotel – hotel yang ada di Kota Malang.

“Sekarang ini dengan pembatasan ini akhirnya kita juga mengandalkan yang ada di Malang saja, mengandalkan dari dalam daerah sendiri. Belum ada yang cancel, yang tanya banyak, kebanyakan yang sekarang berkunjung ke Malang, itu ada banyak urusan, bukan mudik. Adi ada kegiatan kerja, kegiatan kantor, sehingga membawa surat tugas bisa masuk kota. Untuk kegiatan mudik mungkin belum, cuma tanya iya,” paparnya.

Saat ini sendiri okupansi hotel di Kota Malang dari 56 hotel anggota PHRI mayoritas tinggal berokupansi 10–20% saja. Pihaknya justru tengah mendongkrak okupansi restoran dengan mengadakan sejumlah paket buka bersama di bulan Ramadan.

“Untuk hotel menurun kalau puasa memang begitu, tinggal kisaran 15 - 20 persen, sampai mencapai 20 persen itu kalau weekend, hari biasa 10 - 15 persen. Yang lain - lainnya ditunjang dengan kegiatan kreatif buat paket buka puasa, kalau restoran ramai di saat buka puasa,” tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini