4 Fakta Utang Pemerintah Tembus Rp6.445 Triliun, Pengusaha Bilang Begini

Taufik Fajar, Jurnalis · Minggu 02 Mei 2021 06:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 01 320 2403978 4-fakta-utang-pemerintah-tembus-rp6-445-triliun-pengusaha-bilang-begini-msr1vxrA6C.jpg Uang Rupiah. Foto: Okezone

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat utang pemerintah per akhir Maret 2021 sebesar Rp6.445,07 triliun. Secara rasio, angka utang ini setara dengan 41,64% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Menyikapi utang negara tersebut, pengusaha memberikan komentar. Berikut faktanya yang telah dirangkum oleh Okezone, Minggu (2/5/2021):

Baca Juga: Fakta Sri Mulyani Ditawari Pinjol saat Utang Pemerintah Rp6.361 Triliun

1. Penerimaan Pajak Masih Sangat Rendah

Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan BPP Hipmi Ajib Hamdani mengatakan, memasuki kuartal kedua ini, potensi utang akan terus membengkak, karena dalam struktur APBN 2021, dengan belanja pemerintah mencapai Rp2.700 triliun.

"Penerimaan pajak masih sangat rendah. Di mana sampai akhir Maret 2021, baru Rp 228,1 triliun uang masuk ke kas negara," ujar Ajib di Jakarta.

Angka ini terkonstraksi 5,6% dengan penerimaan pajak pada periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Baca Juga: Fakta Utang Indonesia Tembus Rp6.361 Triliun, Ada Warisan Masa Lalu

2. Pemerintah Punyai Amunisi Kas Negara

Pemerintah juga masih mempunyai amunisi untuk menambah pundi-pundi kas negara melalui utang, dengan UU Nomor 2 tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19.

"Sebuah pisau bermata dua, antara fleksibilitas kewenangan berutang, sekaligus potensi debt overhang," tambah Ajib.

3. Utang Bisa Tingkatkan Ekspor?

Yang perlu dicermati dan dikritisi lebih lanjut apakah utang pemerintah ini managable atau tidak. Kemudian, apakah utang pemerintah ini bisa mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi sehingga berujung naiknya penerimaan pajak.

"Apakah utang pemerintah ini bisa menaikkan kinerja ekspor dan mendatangkan devisa yang sustain? Sayangnya, beberapa data menunjukkan angka sebaliknya," imbuh Ajib

4. Tax Ratio Tunjukkan Tren Negatif

Tax ratio menunjukkan tren yang masih negatif, bahkan per Desember 2020, angkanya hanya bisa bertengger di 7,9%. Tingkat pencapaian penerimaan pajak yang belum optimal dibandingkan dengan perputaran ekonomi yang tercermin dalam PDB.

"Indikator lainnya, dalam konteks debt service ratio(DSR) semakin meningkat, artinya utang yang dicetak oleh pemerintah belum memberikan dampak secara paralel dalam peningkatan kualitas dan kuantitas ekspor. Dari dua potensi sumber penerimaan negara, pajak dan devisa, menunjukkan angka yang tidak menggembirakan," jelas Ajib.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini