Sell in May and Go Away, IHSG Beri Sinyal Pelemahan

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Senin 03 Mei 2021 10:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 03 278 2404623 sell-in-may-and-go-away-ihsg-beri-sinyal-pelemahan-KWkOvu3fvZ.jpg IHSG (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan pagi hari tadi. IHSG tertekan 0,20 persen berada di level 5.983. Kini IHSG terus menunjukkan pelemahan ke level 5.949 atau turun 0,77%.

Praktisi pasar modal Lucky Bayu Purnomo mengatakan, saat ini IHSG masih memberi sinyal pelemahan. Sebab, pasar ingin menguji apakah indeks dapat menyentuh bottom line.

“Indeks yang berada di bawah angka psikologis 6.000 ditutup di level 5.995 pekan lalu itu masih memberikan sinyal pelemahan. Karena pasar sebenarnya ingin menguji apakah indeks tersebut dapat menyentuh bottom line, nah bottom line itu ada di angka 5.950,” katanya dalam acara Market Opening IDX Channel, Senin (3/5/2021).

Baca Juga: 121 Saham Melemah, IHSG Dibuka Turun ke Level 5.983 

Lucky menjelaskan, walau pelemahan yang terjadi masih relatif tipis, tetapi pasar memaknai bahwa membatasi transaksi atau mengendalikan volume transaksi pada saat indeks di bawah angka psikologis 6.000 itu masih menjadi pilihan.

“Untuk itu likuiditas dalam pekan ini sebenarnya masih relatif cukup ketat dan memang investor baik jangka pendek, menengah, dan panjang hingga trader, itu sangat selektif terhadap beberapa emiten,” jelas dia.

Di sisi lain, dia menuturkan fenomena Sell in May and Go Away berpotensi hadir pada bulan Mei ini. Walau berbagai stimulus sudah digelontorkan pemerintah di berbagai negara, tetapi tidak serta merta dapat mengembalikan GDP setiap negara dalam kondisi kontraksi.

“Walaupun adanya mekanisme bantuan langsung tunai, kemudian berbagai macam otoritas yang ada di Amerika itu berupaya meningkatkan likuiditas dengan menerbitkan relaksasi mulai dari pajak kemudian insentif terhadap para pengusaha yang itu juga dilakukan di Indonesia. Itu memang bagus tapi tidak serta merta dapat mengembalikan kondisi GDP setiap negara dalam kondisi kontraksi,” tutur Lucky.

Lanjutnya, Lucky mengatakan, pada bulan Mei ini memang pasar masih cenderung mengalami tekanan atau koreksi. Serta, pelaku pasar sangat selektif untuk memperhatikan emiten-emiten yang memiliki kapitalisasi dan likuiditas.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini