Tak Mampu Beli Rp130.000/Kg, Kemendag: Alternatifnya Daging Beku Rp85.000

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Jum'at 07 Mei 2021 21:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 07 320 2407417 tak-mampu-beli-rp130-000-kg-kemendag-alternatifnya-daging-beku-rp85-000-j71ls6DBz8.jpg Daging Sapi (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pemerintah menjaga harga daging sapi segar tidak melebihi Rp130.000 per kg. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggandeng Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) untuk menggelar operasi pasar.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Oke Nurwan mengatakan, berdasarkan pantauan pihaknya, ditemukan harga rata-rata daging sapi berada di kisaran Rp120.000 - Rp150.000 per kg. Untuk menghindari harga tidak bergerak liar, Kemendag bersama APDI memasok daging beku ke pasar untuk memberikan alternatif pilihan bagi konsumen.

Baca Juga: Naik Terus, Harga Daging Tembus Rp140 Ribu/Kg Jelang Lebaran

"Jadi harga daging sapi segar kita batasi di Rp130.000 dan masyarakat juga sudah diberikan alternatif untuk mendapatkan daging beku dengan harga saat ini bisa dipastikan di tingkat Rp85.000," katanya dalam diskusi virtual, Jumat (7/5/2021).

Baca Juga: 420 Ton Daging Sapi Beku Brasil Mulai Banjiri Indonesia

Tercatat, harga daging sapi di pasaran meningkat selama Ramadhan hingga menjelang Lebaran. Padahal, di saat yang sama harga komoditas lainnya mengalami penurunan.

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, harga daging sapi di DKI Jakarta mencapai Rp146.650. Sedangkan harga daging sapi di Jawa Barat senilai Rp135.650 per kg.

Bahkan, stok ketersediaan daging sapi di Jabodetabek dan Bandung Raya pada akhir Mei diprediksi mencapai 65.907 ton. Dengan kebutuhan sebesar 21.827, stok daging sapi dipastikan masih mengalami surplus sebesar 44.080 ton.

Kata Oke, pihaknya juga melakukan mobilisasi sapi lokal ke wilayah sentra konsumsi. Tujuannya untuk menjaga stabilitas harga. "Kita berbicara dengan dinas yang membidangi peternakan di kabupaten/kota untuk melakukan pemantauan di mana ada sapi tersedia. Misalnya di Lamongan terdapat sekitar 114.000, di Malang 243.000, di Blora 267.000, di Rembang 137.000," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini