Cerita Dahlan Iskan soal Dirut Pertamina dan PLN Pernah Satu Kamar

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Kamis 20 Mei 2021 20:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 20 320 2413183 cerita-dahlan-iskan-soal-dirut-pertamina-dan-pln-pernah-satu-kamar-8SkEu2FFxy.jpg Dahlan Iskan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan angkat bicara soal pembentukan dan pemegang saham holding BUMN Baterai atau Indonesia Battery Corporation (IBC).

Dahlan Iskan mengatakan, keputusan pemerintah menetapkan empat perusahaan besar sebagai pemegang saham IBC akan menyulitkan proses pengambilan keputusan. Menurut dia, akan lebih fleksibel jika pemegang sahamnya hanya satu saja.

"Pada awalnya saya mengira bahwa pemegang saham IBC itu Pertamina saja atau PLN aja, tetapi ternyata diputuskan sangat kompak 4 perusahaan. Saya bisa membayangkan alangkah rumitnya pengambilan keputusannya apalagi untuk mencari partner harus mendapatkan persetujuan para pemegang saham dan seterusnya." ujarnya dalam diskusi panel secara virtual, Kamis (20/5/2021).

Baca Juga: Antam Bakal Suplai Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik

Dahlan mengungkapkan pengalamannya ketika pengambilan keputusan dalam proyek pemanfaatan energi panas bumi atau geothermal antara PLN dan Pertamina.

"Sampai waktu itu saya mengkarantina Dirut PLN dan Pertamina harus di satu kamar berdua dan tidak boleh keluar sampai mengambil keputusan. Saya tidak bisa membayangkan betapa sulitnya manajemen direksi dan komisaris untuk bisa segera ambil keputusan dengan 4 perusahaan," ungkapnya.

Menurut dia, pengambilan keputusan cepat sangat penting apalagi terkait teknologi baterai yang dinamis bisa berubah dalam waktu singkat.

"Saya bisa memahami alangkah sulitnya IBC nanti mengambil keputusan teknologi apa yang akan dipakai dan akan diproduksi. Katakan hari ini kita ambil keputusan. Pabriknya paling cepat baru jadi 3 tahun dan dalam jangka waktu tersebut jangan-jangan sudah ada teknologi baru yang lebih maju," tuturnya.

Dia berharap ada pemikiran ulang bahwa satu saja pemegang sahamnya agar pengambilan keputusan bisa cepat.

"Saya tetap berharap ada pemikiran ulang bahwa satu saja pemegang sahamnya, terserah PLN atau Pertamina agar sesuatu yang harus kita ambil cepat ini tidak termakan oleh waktu proses pengambilan keputusannya," katanya.

Sekadar informasi, empat BUMN sektor pertambangan dan energi menandatangani perjanjian pemegang saham pembentukan Indonesia Battery Corporation (IBC). Pembentukan IBC merupakan strategi pemerintah khususnya Kementerian BUMN untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dalam industri pertambangan dan energi, terutama nikel yang menjadi bahan utama baterai kendaraan listrik.

Adapun keempat BUMN yersebut adalah Holding Industri Pertambangan (MIND ID), PT ANTAM Tbk, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero), dengan komposisi saham sebesar masing-masing 25%.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini