Fakta Selamatkan Garuda Indonesia, Perlukah Membuat Maskapai Baru?

Giri Hartomo, Jurnalis · Minggu 06 Juni 2021 05:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 05 320 2420656 fakta-selamatkan-garuda-indonesia-perlukah-membuat-maskapai-baru-EAKUHgFZyj.jpg Garuda Indonesia. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Dalam beberapa waktu belakangan ini, isu tentang keuangan Garuda Indonesia sedang hangat. Pasalnya, Garuda Indonesia dihadapkan pada masalah keuangan karena harus merugi kembali setelah satu tahun sebelumnya sempat untung.

Masalah keuangan yang melulit perseroan ini juga terpaksa membuat maskapai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini untuk menawarkan opsi pensiun dini kepada beberapa karyawanya. Kini pemerintah pun menyiapkan beberapa opsi penyelematan maskapai milik negara tersebut.

Ada sejumlah fakta menarik dari penyelamatan kepada Garuda Indonesia ini. Berikut Okezone merangkumnya pada Minggu (6/6/2021).

1. Ada Empat Opsi Penyelamatan Garuda

Ada empat opsi penyelamatan Garuda Indonesia. Adapun rincian empat opsi pemegang saham. Pertama, pemerintah terus mendukung kinerja Garuda melalui pinjaman ekuitas.

Meski begitu, salam catatan pemegang saham, pemerintah berpotensi meninggalkan maskapai penerbangan pelat merah itu dengan hutang warisan yang besar. Kondisi ini membuat perseroan menghadapi tantangan di masa mendatang.

Baca Juga: Pensiun Dini Garuda Indonesia, Dirut: Ada Pegawai yang Daftar

Opsi ini merujuk pada praktik restrukturisasi pemerintah Singapura terhadap salah satu penerbangan nasional negara setempat yakni, Singapore Airlines.

Kedua, menggunakan legal bankruptcy untuk merestrukturisasi kewajiban Garuda. Seperti, utang, sewa, dan kontrak kerja. Dalam catatan pemerintah, opsi ini masih mempertimbangkan Undang-Undang (UU) kepailitan. Apakah regulasi memperbolehkan adanya restrukturisasi. Opsi ini merujuk pada penyelamatan Latam Airlines milik Malaysia.

Ketiga, Garuda dibiarkan melakukan restrukturisasi. Disaat bersamaan, mulai mendirikan perusahaan maskapai penerbangan domestik baru yang akan mengambil alih sebagian besar rute domestik Garuda. Bahkan, menjadi national carrier di pasar domestik.

Catatannya, untuk dieksplorasi lebih lanjut sebagai opsi tambahan agar Indonesia tetap memiliki national flag carrier.

Baca Juga: Peter Gontha Ungkap Pemegang Saham Minoritas Garuda Rugi Rp11,2 Triliun

Keempat, Garuda akan dilikuidasi. Dalam opsi ini, pemerintah akan mendorong sektor swasta untuk meningkatkan layanan udara. Misalnya dengan pajak bandar udara (bandara) atau subsidi rute yang lebih rendah. Jika, opsi terakhir menjadi pilihan pemerintah, maka Indonesia secara resmi tidak lagi memiliki national flag carrier.

2. Dipertanyakan DPR

Salah satu anggota Komisi VI Evita Nursanty menilai, opsi yang ditawarkan pemegang saham kepada manajemen maskapai nasional pelat merah sulit direalisasikan karena sejumlah pertimbangan.

Misalnya opsi pertama, pemerintah terus mendukung kinerja Garuda melalui pinjaman ekuitas. Dia mencatat, opsi ini akan membuat utang Garuda semakin membengkak. Saat ini utang emiten mencapai Rp70 triliun.

“Opsi pertama, itu gak mungkin dilakukan karena utang Garuda akan numpuk terus, opsi dua menggunakan hukum perlindungan kebangkrutan untuk merestrukturisasi Garuda, ini juga gak mungkin. Opsi tiga restrukturisasi Garuda dan mendirikan maskapai nasional baru. Ini lebih gak mungkin lagi. Opsi empat, Garuda akan dilikuidasi dan pihak swasta dibiarkan mengisis kekosongan. Yah, artinya kita gak punya national flag lagi," ujar Evita

3. Terancam Bangkrut

Kementerian BUMN mengakui bahwa Garuda Indonesia tengah kesulitan keuangan bahkan berpotensi gulung tikar atau bangkrut.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyebut, kegagalan restrukturisasi keuangan Garuda Indonesia terjadi bila kreditur dan lessor Gatuda Indonesia tidak menyetujui skema yang ditawarkan pemegang saham mayoritas

“Memang ada resiko kalau proses restrukturisasi ini kemudian kreditor tidak menyetujui atau akhirnya banyak tuntutan-tuntutan legal terhadap Garuda Indonesia bisa terjadi tidak mencapai kuorum dan akhirnya bisa jadi menuju kebangkrutan. Ini yang kita hindari,” ucapnya.

Kementerian BUMN mencatat, upaya restrukturisasi setidaknya membutuhkan waktu selama 270 hari dengan proses hukum yang panjang dan melelahkan. Selain itu, prosesnya juga akan dilakukan lembaga keuangan global. Lantaran, kreditur Garuda berasal dari investor dan perbankan global.

“Apabila Garuda bisa melakukan restrukturisasi secara massal dengan seluruh lessor dan pemegang sukuk serta melakukan cost reduction, harapannya cost itu menurun 50 persen atau lebih, Garuda bisa survive pasca restrukturisasi,” ujar Kartika.

4. Penyebab Keuangan Garuda Berdarah-darah

Kementerian Badan Usaha Milik Negara mengungkapkan bahwa sebab utama keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, berdara-darah. Salah satunya, persoalan biaya sewa pesawat dari lessor.

Menurut Menteri BUMN, Erick Thohir, dari 36 lessor atau perusahaan penyewa pesawat yang menjadi mitra kerja Garuda Indonesia sebagian lainnya mematok harga tinggi. Selain itu, ada lessor yang terlibat kasus dalam kasus korupsi sebelumnya.

“Ada lessor yang tidak ikutan dengan kasus itu, tetapi pada hari ini kemahalan karena ya kondisi (pandemi). Nah itu yang kita juga harus negosiasi ulang, nah beban terberat saya rasa itu," ujar Erick

5. Bangun Perusahaan Maskapai Baru

Pengamat Penerbangan Suharto Abdul Majid, salah satu strategi penyelamatan Garuda Indonesia yaitu dengan membuka pilihan membangun maskapai penerbangan domestik baru.

Bila nanti dibangun maskapai baru akan terdapat beberapa kondisi yang harus dipersiapkan. Pertama, keuntungan baru akan terlihat di tahun ke lima, armada yang digunakan tidak boleh banyak, dan model bisnisnya harus diperbaiki

"Keempat yaitu perusahaan penerbangan tidak perlu direksi yang pintar-pintar. Tapi yang dibutuhkan mental kerja keras, berdedikasi tinggi, dan bersikap profesional. Biasanya yang pintar suka korupsi," ujarnya

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini