Di Ambang Kebangkrutan, Garuda Indonesia Kembalikan 2 Pesawat

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Senin 07 Juni 2021 15:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 07 320 2421384 di-ambang-kebangkrutan-garuda-indonesia-kembalikan-2-pesawat-j2OywAj27a.jpg Garuda Indonesia (Foto: Okezone/Garuda Indonesia)

JAKARTA – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk melakukan percepatan pengembalian lebih awal armada yang belum jatuh tempo masa sewanya. Langkah tersebut ditandai dengan pengembalian dua armada yakni B737-800 NG kepada salah satu lessor pesawat.

Adapun percepatan pengembalian tersebut dilakukan setelah adanya kesepakatan bersama antara Garuda Indonesia dan pihak lessor pesawat, dimana, salah satu syarat pengembalian pesawat adalah dengan melakukan perubahan kode registrasi pesawat terkait.

Baca Juga: Fakta Selamatkan Garuda Indonesia, Perlukah Membuat Maskapai Baru?

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan, percepatan pengembalian armada yang belum jatuh tempo masa sewanya merupakan bagian dari langkah strategis Garuda Indonesia dalam mengoptimalisasikan produktivitas armada dengan mempercepat jangka waktu sewa pesawat.

"Hal ini merupakan langkah penting yang perlu kami lakukan di tengah tekanan kinerja usaha imbas pandemi Covid-19 dimana fokus utama kami adalah penyesuaian terhadap proyeksi kebutuhan pasar di era kenormalan baru," ujar Irfan, Senin (7/6/2021).

Baca Juga: 7 Fakta Jumlah Komisaris Dipangkas hingga Tak Digaji demi Selamatkan Garuda

Saat ini, manajemen juga terus menjalin komunikasi bersama lessor pesawat lainnya, tentunya dengan mengedepankan aspek legalitas dan compliance yang berlaku.

Kementerian BUMN selaku pemegang saham mayoritas mencatat, ada beberapa penyebab utama Garuda Indonesia Tbk di ambang kebangkrutan. Garuda kini dihadapi persoalan utang dan kerugian yang terus diderita.

Saat ini utang Garuda Indonesia tercatat USD4,5 miliar atau mendekati Rp70 triliun. Pemegang saham mengakui, maskapai berpotensi bangkrut jika skema restrukturisasi utang yang menjadi opsi tidak disepakati oleh kreditur.

"Memang ada risiko kalau proses restrukturisasi ini kemudian kreditor tidak menyetujui atau akhirnya banyak tuntutan-tuntutan legal terhadap Garuda Indonesia bisa terjadi tidak mencapai kuorum dan akhirnya bisa jadi menuju kebangkrutan. Ini yang kita hindari,” ujar Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo beberapa waktu lalu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini