Garuda Indonesia Terancam Bangkrut, Dahlan Iskan Bilang Begini

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Senin 07 Juni 2021 18:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 07 320 2421517 garuda-indonesia-terancam-bangkrut-dahlan-iskan-bilang-begini-VWO0mSBPy2.jpg Garuda Indonesia (Foto: Okezone)

JAKARTA - Dahlan Iskan angkat bicara mengenai kondisi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) di tengah pandemi Covid-19. Garuda terancam bangkrut karena banyak masalah di maskapai milik negara tersebut.

Garuda Indonesia dihadapkan dengan utang yang menggunung hingga Rp70 triliun serta kerugian Rp1,4 triliun per bulan.

Mantan Menteri BUMN tersebut membandingkan kondisi keuangan Garuda Indonesia dan maskapai penerbangan milik Thailand, Thai Airways (TG). Keduanya memiliki perkara serupa yakni kerugian akibat pandemi Covid-19.

Baca Juga: Di Ambang Kebangkrutan, Garuda Indonesia Kembalikan 2 Pesawat 

Meski kedua industri perbangan itu memiliki kesamaan masalah, namun proses penyelesaian lebih dulu dilakukan pemerintah Thailand. Di mana, perkara Thai Airways sudah dibahas dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) negara setempat untuk melakukan persidangan.

"Bedanya, Thai Airways sudah membuat keputusan. membawa masalahnya ke PKPU-nya Thailand. Sidang-sidangnya sudah berlangsung, sudah pula siap diputuskan, tapi para kreditor masih menyusulkan pendapat," ujar Dahlan, Senin (7/6/2021).

Usai kreditor memberikan pendapat usulan, PKPU pun menyetujui untuk mendengarkan hal tersebut. Dengan demikian, putusan dimundurkan hingga 15 Juni 2021 mendatang.

Sementara itu, proses yang dialami Garuda Indonesia dinilai masih ngambang karena belum ada petusan pemerintah terhadap kondisi maskapai pelat merah saat ini.

"Pemerintah Thailand sudah pada keputusan final, tidak mau lagi menginjeksi TG. Bahkan tiga tahun lalu pemerintah sudah memutuskan tidak mau lagi menjadi pemegang saham mayoritas. Dilakukanlah divestasi dari 51 persen ke 47,8 persen. Sementara Garuda melayang-layang dengan benang putusnya," katanya.

Dengan divestasi itu pemerintah mengeluarkan Thai Airways dari daftar BUMN-nya. Divestasi itu dilakukan dengan cepat. Saat status TG diubah, maka perusahaan pun melantai ke pasar modal. Dahlan mencatat, tidak rumit mendivestasi saham di pasar modal.

"Utang TG memang sangat besar, juga sebesar gajah bengkak. Bengkaknya lebih besar sekitar Rp100 triliun. Lebih besar dari GA yang Rp70 triliun.

Berbagai upaya menyelamatkan TG sudah dilakukan pemerintah Thailand. Jalur-jalur yang rugi sudah dihapus. Gaji dipangkas dan jumlah karyawan pun dikurangi hingga 6.000 orang.

TG sudah tidak punya lagi rute penerbangan ke Amerika. Padahal, industri penerbangan ini sukses. Bahkan, jauh lebih sukses dari Garuda Indonesia. Dimana, TG pernah memiliki penerbangan nonstop jarak jauh baik dari Bangkok ke New York dan dari Bangkok ke Los Angeles.

"Saya pernah naik TG dengan rute yang amat jauh, dari Madrid ke Bangkok, nonstop. Kecewa. Salah saya sendiri. Saya kurang cerewet bertanya. Waktu itu saya membeli tiket first class agar bisa tidur enak. Ternyata first class di jurusan itu sama dengan business class, kursinya hanya bisa disandarkan sedikit, tidak bisa dibuat hamparan datar," kata dia.

Lebih jauh, Dahlan menuturkan, kesulitan yang sudah biasa didengar juga di alamai oleh Malaysia Airlines System (MAS). Pemerintah Malaysia tidak henti-hentinya menyuntikkan dana. Pun tidak membuat MAS kunjung sehat. Pernah dikeluarkan dari BUMN, justru hampir bangkrut.

Thai Airways, kata dia, sudah berupaya menyelesaikan utangnya di luar pengadilan. Kreditor juga setuju bahwa utang harus direstrukturisasi. Bunga harus dipangkas, jangka pengembalian harus diperpanjang, hingga beberapa aset harus dijual.

Untuk merestrukturisasi utang itu para kreditor sudah menunjuk wakil yang bisa diterima semua pihak yakni seorang mantan Menteri. Ditambah seorang mantan Direktur Utama yang pernah membawa TG memperoleh laba. Sedang Bangkok Bank telah pula mengirim wakil ke tim negosiasi yang dibentuk.

Namun, persoalan TG sudah terlalu berat. Maka, direksi TG membawanya ke PKPU-nya Thailand. Momentum Covid-19 dimanfaatkan untuk melakukan penyelesaian.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini