Wall Street Melemah Terseret Proyeksi Kenaikan Fed Rate

Antara, Jurnalis · Kamis 17 Juni 2021 07:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 17 278 2426474 wall-street-melemah-terseret-proyeksi-kenaikan-fed-rate-ohEJ7LRrc1.jpg Bursa saham Wall Street ditutup melemah (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Tiga indeks utama Wall Street melemah pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Bursa saham AS melemah setelah para pejabat Federal Reserve AS membuat investor bingung dengan indikasi bahwa bank sentral dapat mulai menaikkan suku bunga pada 2023, setahun lebih awal dari yang diperkirakan.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 265,66 poin atau 0,77%, menjadi menetap di 34.033,67 poin. Indeks S&P 500 berkurang 22,89 poin atau 0,54%, menjadi berakhir di 4.223,70 poin. Indeks Komposit Nasdaq turun 33,17 poin atau 0,24%, menjadi ditutup pada 14.039,68 poin, dilansir dari Antara, Kamis (17/6/2021).

Baca Juga: Investor Tunggu Hasil The Fed, Wall Street Merana

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor utilitas tergelincir 1,49%, memimpin penurunan. Sementara itu, sektor consumer discretionary terangkat 0,16%, merupakan satu-satunya kelompok yang mencatat kenaikan.

Proyeksi baru melihat mayoritas 11 dari 18 pejabat bank sentral AS mencatat setidaknya dua seperempat poin% kenaikan suku bunga untuk tahun 2023. Para pejabat juga berjanji untuk mempertahankan kebijakan yang mendukung untuk saat ini guna mendorong pemulihan pekerjaan yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Wall Street Bervariasi, Indeks S&P dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi

The Fed mengutip prospek ekonomi yang membaik, dengan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan diperkirakan mencapai 7,0% tahun ini. Namun, investor terkejut mengetahui para pejabat sedang mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih awal dari 2024.

"Pada awalnya, plot titik yang memproyeksikan dua kenaikan pada tahun 2023 lebih hawkish dari yang diharapkan, dan pasar bereaksi seperti itu," kata Daniel Ahn, kepala ekonom AS di BNP Paribas.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan naik di tengah berita Fed, sementara indeks dolar, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik ke puncak enam minggu.

Dengan inflasi yang meningkat lebih cepat dari yang diperkirakan dan ekonomi bangkit kembali dengan cepat, pasar telah mencari petunjuk kapan Fed dapat mengubah kebijakan yang diberlakukan tahun lalu untuk memerangi dampak ekonomi dari pandemi, termasuk program pembelian obligasi besar-besaran.

The Fed mengulangi janjinya untuk menunggu "kemajuan lebih lanjut yang substansial" sebelum mulai beralih ke kebijakan yang disesuaikan dengan ekonomi dibuka penuh. Bank sentral juga mempertahankan suku bunga acuan jangka pendek mendekati nol dan mengatakan akan terus membeli obligasi 120 miliar dolar AS setiap bulan untuk mendorong pemulihan ekonomi.

“Ketua Powell sudah memberi isyarat, sementara komite belum siap untuk tapering (pengurangan pembelian obligasi), sekarang sudah ada di pikiran komite. Mereka telah menghentikan ungkapan 'berpikir tentang memikirkan tentang tapering', dan kami berharap bahwa dalam beberapa pertemuan berikutnya, komite kemungkinan akan secara resmi memulai diskusi tentang tapering,”kata Ahn dari BNP.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini