IHSG Anjlok 1,82% Tinggalkan Level 6.000

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Jum'at 18 Juni 2021 11:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 18 278 2427162 ihsg-anjlok-1-82-tinggalkan-level-6-000-f1nwvKXcQe.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di zona merah hingga jeda sesi I perdagangan hari ini. IHSG melemah 1,82% ke 5.958.

Pada jeda sesi I perdagangan, Jumat (18/6/2021), Indeks LQ45 turun 2,16% ke 858,57, indeks JII turun 2,61% ke 544,73, indeks IDX30 turun 2,11% ke 458,55, dan indeks MNC36 turun 1,85% ke 287,85.

Baca Juga: Turun 39 Poin, IHSG Dibuka Melemah ke Level 6.038

Head of Business Development PT FAC Sekuritas Indonesia, Kenji Putera Tjahaja, mengungkapkan, pelemahan IHSG kemarin juga diikuti aksi jual dari asing. Selain itu, adanya sentimen domestik yakni terkait keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuan tidak memberikan dampak signifikan pada pergerakan IHSG.

“Kemarin betul IHSG ditutup melemah, itu juga diikuti oleh aksi jual dari asing memang terdapat net sell. Kalau secara sentimen BI menahan suku bunga, saya rasa market sudah expect terhadap hal itu jadi tidak terlalu memberikan pengaruh signifikan,” ujarnya dalam acara Market Opening IDX Channel, Jumat (18/6/2021).

Baca Juga: IHSG Lanjutkan Pelemahan, Dibuka Turun ke 6.061

Justru, menurut Kenji, sentimen luar negeri yakni hasil FOMC meeting The Fed lebih memberikan dampak terhadap pergerakan bursa-bursa negara berkembang termasuk IHSG. Di mana, The Fed berencana untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

“Untuk negara-negara berkembang sentimennya agak bikin deg-degkan. Dalam arti, The Fed mau menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan yang sebelumnya di 2024 menjadi di 2023. Saya rasa itu turut memberikan tekanan terhadap bursa-bursa khususnya untuk negara-negara berkembang,” kata dia.

Lanjutnya, yang ditakutkan oleh negara-negara berkembang apabila terjadi tapering akibat quantitative easing yang dikurangi oleh The Fed. Hal tersebut berhubungan dengan kenaikan dua kali suku bunga di 2023, sehingga harusnya tapering terjadi lebih cepat.

“Ini kan memberikan potensi untuk aliran dana global yang masuk ke negara-negara berkembang khususnya Indonesia, itu bisa pulang kampung atau balik lagi ke negara asal dan itu bisa jadi sentimen negatif,” ujar Kenji.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini