JAKARTA - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan bahwa jika melihat pandangan dari epidemiolog yang menyatakan bahwa PPKM mikro tidak begitu optimal dalam menekan angka kenaikan, hal ini sebenarnya sudah terbukti karena dalam beberapa hari terakhir slope kenaikan kasus positif Covid-19 semakin curam ke atas.
Di sisi lain, semakin tinggi kenaikan kasus Covid-19 membutuhkan waktu untuk kembali menurunkannya, dalam periode tersebut tentu aktivitas masyarakat akan terganggu.
"Ketika aktivitas masyarakat terganggu maka sudah tentu aktivitas perekonomian juga akan ikut terganggu, ketika aktivitas perekonomian terganggu maka sudah pasti akan berdampak pada beragam indikator perekonomian," ujar Yusuf kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Minggu (27/6/2021).
Baca Juga: Cek Perubahan Jam Operasional Bank Mandiri Imbas Lonjakan Covid-19
Ketika berbicara soal asumsi makro, pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya sudah terlihat membaik di kuartal II, ini berpotensi terganggu proses pemulihannya, terutama jika penanganan Covid-19 nya terjadi secara berlarut-larut. Bisa jadi pertumbuhan ekonomi di kuartal III, berpotensi lebih rendah dibandingkan kuartal II.
Baca Juga: Lonjakan Kasus Covid-19, Satgas: Ini Dampak Mudik Lebaran
"Sementara untuk nilai tukar, dengan naik kasus Covid-19, tentu persepsi risiko investor untuk Indonesia mengalami peningkatan, ketika meningkat potensi untuk terjadi capital outflow menjadi semakin besar, ketika capital outflow terjadi dan jika lebih buruk terjadi secara tiba-tiba, maka sudah pasti akan berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah yang akan terdepresiasi," jelas Yusuf.