Dia mengatakan, dampaknya nyata terhadap perekonomian dan daya beli masyarakat. Untuk tracing, buruh biasanya melakukan tes rapid antigen atau swab di perusahaan.
"Ketika dia terbukti reaktif, dia disuruh pulang dan isolasi mandiri di rumah. Karena dia isolasi mandiri di rumah, dia ngga lapor ke Puskesmas atau Satgas Covid-19, karena kalau lapor ke Satgas, perusahaan tempat dia bekerja akan ditutup sementara selama 2 minggu," ungkap Said.
Dia menyebutkan, perusahaannya pasti tidak mau ditutup, maka buruhnya tidak melapor. Akibatnya, keluarga buruh ini kemudian terpapar, dan kasusnya semakin melonjak.
"Ini karena kalau buruh isolasi mandiri di rumah, dia tidak mendapatkan obat dan vitamin dari BPJS dan Pemda, karena ngga lapor. Kalau lapor, perusahaannya ditutup 2 minggu, sehingga ini menyebabkan lonjakan kasus di klaster buruh," bebernya.
Said mengatakan, lonjakan kasus inilah yang kemudian berdampak pada perekonomian. Pertumbuhan ekonomi tidak akan naik, pasti minus, dan tentunya daya beli menurun karena konsumsi menurun.
"Daya beli menurun, konsumsi menurun, lonjakan kasus klaster buruh dan keluarga, di tengah situasi itulah, industri ritel terpukul. Itu sudah terlihat di kelas hipermarket, karena yang terpapar bukan hanya kelas pekerja bawah, tetapi juga middle-up class terutama perkantoran, jadi bukan hanya blue collar, white collar-nya juga kena," pungkas Said.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.