Ancaman PHK Buruh Ritel di Depan Mata, KSPI: Sekarang Lotte Tergonjang-ganjing

Michelle Natalia, Jurnalis · Rabu 30 Juni 2021 18:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 30 320 2433387 ancaman-phk-buruh-ritel-di-depan-mata-kspi-sekarang-lotte-tergonjang-ganjing-vSJP2RtFTZ.jpg Industri Ritel di Tengah Pandemi Semakin Tidak Menarik Bagi Investor. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menilai bahwa industri ritel di tengah melonjaknya kasus virus corona semakin tidak menarik. Dengan melonjaknya Covid-19 berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi, yang kemudian mempengaruhi daya beli dan konsumsi masyarakat.

"Penurunan ini sudah mulai dirasakan, khususnya di industri ritel. Karena daya beli turun, maka ritel dan hipermarket menjadi yang pertama terdampak, karena kelas menengah ke atas enggak belanja, itu yang juga menjelaskan kenapa Giant tutup," ujar Said, kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Rabu(30/6/2021).

Untuk kasus Giant, investor Hong Kong menilai bahwa investasi di industri ritel sudah tidak menarik karena daya beli kelompok menengah ke atas menurun.

Baca Juga: Kabar PPKM Darurat, Pengusaha Ritel Minta Mal Tetap Dibuka

"Itu terjadi di Carrefour, Giant, nah sekarang ke Lotte ini yang tergonjang-ganjing. Di kelas hipermarket, ritel tengah, seperti Tip Top dan Superindo sudah mulai merasakan juga," ungkap Said.

Dari kelompok ritel tersebut, yang masih bisa bertahan adalah yang berada di ritel kelas bawah seperti Indomaret dan Alfamart yang sasaran pasarnya di tingkat perkampungan.

Baca Juga: Viral Video Tutupnya Gerai Hero di Mal Ciputra

"Tapi kalau Covid-19 ini ngga selesai, klaster buruh dan keluarganya makin meningkat, kan orang ngga akan belanja lagi di Indomaret dan Alfamart, pasti pakai ojek online, dan dari situ ancaman PHK sudah di depan mata buat industri ritel," pungkas Said.

Klaster Covid-19 di Kalangan Buruh

Said Iqbal membeberkan penyebab lonjakan kasus Covid-19 di kalangan buruh/pekerja.

"Lonjakan kasus Covid-19 klaster buruh dan keluarganya itu tinggi sekali. Kita ngga tau faktornya apa, tapi dugaan sementara adalah makin longgarnya protokol kesehatan," ujar Said.

Dia mengatakan, dampaknya nyata terhadap perekonomian dan daya beli masyarakat. Untuk tracing, buruh biasanya melakukan tes rapid antigen atau swab di perusahaan.

"Ketika dia terbukti reaktif, dia disuruh pulang dan isolasi mandiri di rumah. Karena dia isolasi mandiri di rumah, dia ngga lapor ke Puskesmas atau Satgas Covid-19, karena kalau lapor ke Satgas, perusahaan tempat dia bekerja akan ditutup sementara selama 2 minggu," ungkap Said.

Dia menyebutkan, perusahaannya pasti tidak mau ditutup, maka buruhnya tidak melapor. Akibatnya, keluarga buruh ini kemudian terpapar, dan kasusnya semakin melonjak.

"Ini karena kalau buruh isolasi mandiri di rumah, dia tidak mendapatkan obat dan vitamin dari BPJS dan Pemda, karena ngga lapor. Kalau lapor, perusahaannya ditutup 2 minggu, sehingga ini menyebabkan lonjakan kasus di klaster buruh," bebernya.

Said mengatakan, lonjakan kasus inilah yang kemudian berdampak pada perekonomian. Pertumbuhan ekonomi tidak akan naik, pasti minus, dan tentunya daya beli menurun karena konsumsi menurun.

"Daya beli menurun, konsumsi menurun, lonjakan kasus klaster buruh dan keluarga, di tengah situasi itulah, industri ritel terpukul. Itu sudah terlihat di kelas hipermarket, karena yang terpapar bukan hanya kelas pekerja bawah, tetapi juga middle-up class terutama perkantoran, jadi bukan hanya blue collar, white collar-nya juga kena," pungkas Said.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini