OPEC+ Batal Bahas Rencana Peningkatan Produksi Minyak

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 06 Juli 2021 07:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 06 320 2436073 opec-batal-bahas-rencana-peningkatan-produksi-minyak-gNu44xQ4iP.jpg OPEC dan Sekutunya Batal Bahas Rencana Peningkatan Produksi Minyak. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

DUBAI - Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) membatalkan rencana pembahasan produksi minyak, Uni Emirat Arab menolak perpanjangan produksi dalam delapan bulan. Artinya tidak ada kesepakatan untuk meningkatkan produksi yang telah disepakati.

Kegagalan pembicaraan salah satunya terkait peningkatan produksi minyak bulan depan. Dengan keputusan ini lpatokan minyak mentah Brent yang diperdagangkan naik 1,1% menjadi USD77 per barel.

Beberapa sumber OPEC+ mengatakan tidak akan ada peningkatan produksi minyak pada Agustus. Sementara sumber lain mengatakan pertemuan baru akan berlangsung dalam beberapa hari mendatang dan mereka yakin akan ada dorongan pada Agustus.

Baca Juga: Stok AS Turun, Harga Minyak Dunia Naik

“Belum ada keputusan tentang Agustus dan diskusi masih berlanjut. Pasar membutuhkan minyak itu,” kata salah satu sumber, dilansir dari Reuters, Selasa (6/7/2021).

Harga minyak berada di level tertinggi sejak 2018 dan telah memicu kekhawatiran terhadap laju inflasi. Hal ini pun mengkhawatirian menggagalkan pemulihan global dari pandemi.

UEA menerima proposal dari Arab Saudi dan anggota OPEC+ lainnya untuk meningkatkan produksi secara bertahap sekitar 2 juta barel per hari mulai Agustus hingga Desember, tetapi menolak perpanjangan pemotongan yang tersisa hingga akhir 2022 dari April saat ini tanpa menyesuaikan produksi dasar saat ini.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Flat Menanti Pertemuan OPEC+

UEA kesal dengan baseline yang rendah dari pengurangan produksi yang dihitung dan ingin jumlahnya dinaikkan. Abu Dhabi telah menginvestasikan miliaran dolar untuk meningkatkan kapasitas produksinya dan mengatakan garis dasarnya ditetapkan terlalu rendah ketika OPEC+ awalnya memalsukan pakta mereka.

Sumber OPEC+ mengatakan posisi UEA tidak berubah. Mereka mengatakan panel menteri yang diketuai oleh Arab Saudi dan Rusia, Komite Pemantau Gabungan Kementerian, membutuhkan lebih banyak waktu untuk membahas masalah ini.

UEA mengatakan tidak sendirian dalam mencari dasar yang lebih tinggi karena yang lain, termasuk Azerbaijan, Kazakhstan, Kuwait dan Nigeria, telah meminta dan menerima yang baru sejak kesepakatan pertama kali disepakati tahun lalu.

Perselisihan tersebut mencerminkan perbedaan yang berkembang antara Arab Saudi dan UEA. Kedua negara telah membangun aliansi regional, menggabungkan kekuatan finansial dan militer untuk memerangi konflik di Yaman dan memproyeksikan kekuatan di tempat lain.

Tetapi UEA telah menarik diri dari tindakan di Yaman, sementara Arab Saudi telah berusaha untuk menantang dominasi UEA sebagai pusat bisnis dan pariwisata di kawasan itu.

UEA pada Agustus 2020 juga sepakat untuk menormalkan hubungan dengan Israel, sementara Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini