China 'Sikat' Raksasa Taksi Online Diduga Kumpulkan Data Ilegal, Sahamnya Anjlok 25%

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 07 Juli 2021 07:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 07 278 2436699 china-sikat-raksasa-taksi-online-diduga-kumpulkan-data-ilegal-sahamnya-anjlok-25-hxq5aAbG93.jpg Saham DiDi Global Anjlok. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

NEW YORK - Saham Didi Global Inc anjlok hingga 25% di awal perdagangan bursa saham AS, pada Selasa. Hal ini karena Pemerintah China memerintahkan perusahaan teknologi untuk dihapus beberapa hari setelah listing senilai USD4,4 miliar di New York.

Cyberspace Administration of China (CAC) memerintahkan aplikasi raksasa ride-hailing tersebut dihapus sementara dari perdagangan karena adanya temuan perusahaan aplikasi ini telah mengumpulkan data pribadi pengguna secara ilegal.

Baca Juga: Perusahaan Taksi Online China IPO, Pemiliknya Kini Jadi Miliarder Dunia

CAC pun mengumumkan penyelidikan keamanan siber ke perusahaan lain yang berbasis di China yang saham induknya terdaftar di AS.

Atas tindakan tersebut, saham Didi Global terakhir diperdagangkan sekitar USD12,24 atau 25,5% di bawah harga debutnya USD16,65 pada 30 Juni.

Baca Juga: Wall Street Bervariasi, Dow Jones dan S&P 500 Melemah

Didi menilai larangan aplikasi ini merugikan pendapatannya di China, meskipun tetap tersedia untuk pengguna yang sudah ada. Kepada Reuters, Didiengaku tidak mengetahui akan adanya penyelidikan sebelum IPO dilakukan.

Tetapi Wall Street Journal melaporkan bahwa sebenarnya Didi telah diperingatkan regulator untuk menunda penawaran umum perdana (IPO) dan memeriksa keamanan jaringannya.

“Dengan beberapa sumber berita mengatakan bahwa Didi tahu berbulan-bulan sebelum tindakan keras akan datang, beberapa orang akan mulai meragukan tata kelola perusahaan juga. Jika tindakan keras itu memang direncanakan berbulan-bulan sebelumnya, itu akan menyiratkan bahwa itu tidak akan segera hilang,” ujar Direktur Riset Aequitas, Sumeet Singh, dilansir dari Reuters, Rabu (7/7/2021).

Saham Didi dijual dengan harga USD14 dalam IPO atau menjadi pencatatan terbesar perusahaan China di Amerika Serikat, sejak Alibaba mengumpulkan USD25 miliar pada 2014. Didi pun menjadi perusahaan dengan nilai mencapai USD75 miliar.

Selain saham Didi yang turun. Kebijakannya Pemerintah China tersebut membuat saham Kanzhun Ltd dan Full Truck Alliance turun masing-masing 17,4% dan 14,3%.

China juga memperluas tindakan di luar sektor teknologi dengan meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan China yang terdaftar di luar negeri untuk menindak aktivitas ilegal dan menghukum penerbitan sekuritas palsu.

Saham yang terdaftar di AS di promotor acara hip-hop China, Pop Culture Group, anjlok 32%.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini