Aprindo: PPKM Darurat Menggerus Sektor Ritel

Azhfar Muhammad, Jurnalis · Minggu 11 Juli 2021 13:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 11 320 2438897 aprindo-ppkm-darurat-menggerus-sektor-ritel-GOkfTQ6V8G.jpg Dampak PPKM Darurat pad Ritel. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat membuat bisnis ritel menurun drastis terutama sektor pangan hingga 60%. PPKM Darurat Jawa-Bali berlaku pada 3- 20 Juli 2021.

"Terkait PPKM situasinya sangat menggerus sektor ritel karena adanya pembatasan mobilitas dan ini tentunya mempengaruhi konsumen datang ke ritel dan membuat pembelanjaan serta konsumsi ini juga menurun dan terdampak signifikan," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey, saat dihubungi oleh MPI, Minggu (11/7/2021).

Baca Juga: PPKM Darurat, Pengusaha Minta Ritel di Mal Tutup Jam 8 Malam

Dirinya mengatakan, pada bisnis ritel terbagi menjadi dua yaitu sektor pangan dan non pangan. 

"Untuk yang sektor pangan mecakup kebutuhan makanan dan minuman seperti supermarket, gerai swalayanan 50% hingga 60% tentu, itu juga yang datang membelinya terbatas hanya kebutuhan pokok saja tidak ada kebutuhan lain yang dibeli istilahnya impulsif buying mereka hanya datang untuk beli kebutuhan pangan pokok saja," paparnya.

Baca Juga: Supermarket Diserbu Jelang PPKM Darurat, Masyarakat Borong Stok Makanan

Adapun kebutuhan pokok yang dibeli seperti sayur-sayuran, daging, susu. Pembelanjaan pun jauh lebih rendah dibanding masa sebelum PPKM.

Sebelumnya, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Fernando Repi menuturkan, pihaknya tentu mendukung kebijakan PPKM Darurat yang diberlakukan pemerintah. Namun, Aprindo menilai masih ada kesimpangsiuran dalam implementasinya.

“Kita harus mendukung ya, bahwa kebijakan pemerintah ini merupakan salah satu solusi untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang sangat cepat. Tetapi, di satu sisi bahwa masih ada kesimpangsiuran dalam implementasinya itu. Kita berharap ini agar segera dapat di-adjust oleh pemerintah pusat,” tuturnya.

Dia menjelaskan, ketika sudah ada penyesuaian, peritel berharap agar jam operasional dapat ditambah sesuai dengan apa yang sudah ditentukan oleh pemerintah pusat.

“Kami catat ada beberapa daerah yang masih melakukan pembatasan operasional ritel sampai dengan jam 5 sore. Oleh karena itu, sampai dengan saat ini kami masih terus melakukan sosialisasi aktif dengan beberapa pemerintah kota dan kabupaten di Jawa-Bali,” jelas Fernando.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini