Sri Mulyani: Kenapa Kita Tambah Utang? Untuk Selamatkan Rakyat!

Aditya Pratama, Jurnalis · Minggu 25 Juli 2021 12:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 25 320 2445623 sri-mulyani-kenapa-kita-tambah-utang-untuk-selamatkan-rakyat-sdQTizEnoU.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan instrumen utang untuk kesejahteraan rakyat (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan alasan pemerintah menambah utang negara yang harus dilakukan di tengah pandemi Covid-19

Sri Mulyani mengatakan, pandemi Covid-19 sebagai tantangan yang luar biasa dan harus dihadapi. Tidak hanya mengancam manusia, pandemi ini juga mampu merusak perekonomian suatu negara.

Baca Juga: Pentingnya Keterbukaan Keuangan Rumah Tangga di Tengah Pandemi agar Tak Banyak Utang

"Semua negara di dunia menggunakan instrumen kebijakan untuk bisa menangani pandemi Covid-19 dan dampak sosial ekonomi serta keuangan," ujar Sri Mulyani dikutip dari acara Bedah Buku "Mengarungi Badai Pandemi" di Youtube Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, Minggu (25/7/2021).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menambahkan, pandemi adalah extraordinary challenge atau tantangan yang luar biasa, dan hal itu membutuhkan respon kebijakan yang juga extraordinary.

Baca Juga: Rekor Baru, Penjualan SBR010 Capai Rp7,5 Triliun

Salah satu kebijakan extraordinary adalah mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia (APBN) yang harus menjawab begitu banyak tantangan di masa pandemi ini, seperti kebutuhan untuk meningkatkan anggaran di bidang kesehatan, bantuan sosial, membantu masyarakat, membantu daerah, dan menjaga perekonomian.

"Hal ini terjemahannya adalah suatu beban APBN yang luar biasa, kami di kementerian keuangan merespons dengan whatever actings, apapun kita lakukan untuk menyelamatkan warga negara dan perekonomian Indonesia dan itu berimplikasi kepada defisit APBN," kata dia.

"Kenapa kita harus menambah utang? seolah-olah menambah utang menjadi tujuan padahal dia adalah merupakan instrumen untuk menyelamatkan warga negara dan perekonomian kita," sambungnya.

Untuk diketahui, Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah sampai akhir Juni 2021 sebesar Rp6.554,56 triliun. Angka tersebut 41,35% dari rasio utang pemerintah terhadap PDB.

Adapun komposisi utang tersebut terdiri dari pinjaman sebesar Rp842,76 triliun (12,86%) dan SBN sebesar Rp5.711,79 triliun (87,14%).

Secara rinci, utang melalui pinjaman tersebut berasal dari pinjaman dalam negeri Rp12,52 triliun. Sedangkan pinjaman luar negeri sebesar Rp830,24 triliun. Sementara itu, rincian utang dari SBN berasal dari pasar domestik sebesar Rp4.430,87 triliun dan valas sebesar Rp1.280,92 triliun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini