Survei Membuktikan, Masyarakat Masih Tahan Belanja di Tengah Pandemi

Antara, Jurnalis · Jum'at 13 Agustus 2021 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 13 622 2455129 survei-membuktikan-masyarakat-masih-tahan-belanja-di-tengah-pandemi-12AMOMYGYh.jpeg Masyarakat Tahan Belanja (Foto: Okezone)

JAKARTA - Masyarakat di Asia Tenggara masih menahan pengeluaran dan berhati-hati dalam berbelanja selama pandemi. Hal ini merupakan hasil survei gelombang keempat yang dilakukan Ipsos untuk memahami perkembangan opini dan perilaku konsumsi masyarakat di Asia Tenggara selama pandemi.

Survei itu digelar online pada 16 – 24 Juni 2021 yang mencakup negara Asia Tenggara: Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Survei itu merupakan bagian dari rangkaian survei Ipsos yang dilakukan sebelumnya, gelombang 1 pada Juni 2020, gelombang 2 pada September 2020, dan gelombang 3 pada Februari 2021.

Dalam survei tersebut, Konsumen di Asia Tenggara masih menahan pengeluaran dan berhati-hati dalam membeli produk (82 persen) selama pandemi Covid-19. Satu dari dua konsumen masih melakukan penimbunan bahan makanan dan produk personal, 32 persen konsumen mengaku membeli merek dan produk baru yang sebelumnya mereka tidak membeli, dan hanya 20 persen konsumen mulai berani membeli perlengkapan rumah tangga yang lebih mahal dibandingkan sebelumnya.

Baca Juga: Sri Mulyani Soroti Tabungan Rp100 Juta Kian Meningkat

Kategori produk cooking at home (46 persen), personal care (28 persen), dan produk kebersihan (34 persen) masih akan tetap lebih banyak dibelanjakan oleh konsumen dibandingkan sebelum pandemi, meskipun pembatasan tidak lagi dilakukan.

Sedangkan untuk pembelian besar seperti rumah dan mobil, pada hasil survei kali ini terlihat adanya tren positif di negara Asia Tenggara, meskipun peningkatannya belum signifikan.

Keyakinan konsumen untuk melakukan major purchase, terlihat meningkat paling signifikan di Vietnam 12 persen, dari periode sebelumnya hanya 7 persen. Untuk periode survei ini, Indonesia (6 persen), Malaysia (4 persen), dan Singapura (4 persen) masing-masing keyakinan konsumen meningkat 1 persen dibandingkan periode survei lalu.

Keyakinan konsumen, Filipina meningkat 2 persen dari gelombang 3 sebesar 10 persen, dan gelombang 4 sebesar 12 persen. Berbeda dengan Thailand, yang justru keyakinan konsumen untuk melakukan major purchase berkurang, hasil survei Februari 2021 sebesar 7 persen sedangkan survei Juni 2021 menjadi sebesar 6 persen.

"Di Indonesia sendiri, kita lihat adanya tren peningkatan untuk pembelian mobil dan rumah, meskipun masih relatif rendah. Adanya peningkatan persentase ini bisa dipengaruhi oleh kebijakan stimulus Pemerintah berupa pemberian insentif pajak untuk sektor otomotif dan properti yang masih berlangsung ketika survei ini diselenggarakan. Selain itu kondisi ekonomi nasional dan keuangan pribadi yang dinilai membaik, tentu memberikan keyakinan sendiri pada masyarakat,” ujar Managing Director Ipsos Indonesia Soeprapto Tan seperti dilansir Antara, Jakarta, Jumat (13/8/2021).

Secara keseluruhan di negara Asia Tenggara, masyarakat lebih yakin mengenai keamanan pekerjaan mereka, terkait adanya pemutusan hubungan kerja atau PHK, dibandingkan pada hasil survei gelombang 2 (September 2020) dan 3 (Februari 2021).

Berdasarkan hasil survei Juni 2021, Vietnam dan Filipina adalah dua negara yang paling optimistis, dengan masing-masing persentase 23 persen, Indonesia 19 persen, Thailand 11 persen, Malaysia 7 persen, dan terakhir Singapura 4 persen.

Di sisi lain, hasil survei yang menyebutkan sebesar 60 persen masyarakat Indonesia mengakui jelasnya komunikasi pemerintah dalam penyampaian informasi terkait panduan pencegahan COVID-19.

Dalam surveinya bahwa 53 persen masyarakat Indonesia puas terhadap bantuan yang diberikan pemerintah selama pandemi. Di antara banyaknya program bantuan yang diberikan pemerintah, ada tiga program bantuan yang paling banyak didapatkan masyarakat yaitu program prakerja dengan presentase 24 persen, subsidi listrik 19 persen dan subsidi kuota internet 18 persen pada sektor pendidikan.

Dalam survei, masyarakat mengungkapkan bahwa ketiga program bantuan tersebut juga dirasa paling bermanfaat antara lain program prakerja (35 persen), subsidi listrik (26 persen), dan kuota internet (25 persen) untuk menunjang pembelajaran daring.

Sentimen positif

Mayoritas masyarakat di Asia Tenggara memiliki sentimen positif terhadap situasi ekonomi nasional negara mereka. Dibandingkan dengan hasil survei gelombang 3 pada Februari 2021, terlihat semakin banyaknya masyarakat di negara Asia Tenggara yang menyatakan kondisi ekonomi nasional telah membaik.

Pada laporan survei Ipsos didapati bahwa 41 persen masyarakat Indonesia menyatakan bahwa kondisi ekonomi nasional dinilai semakin membaik.

Jika dibandingkan dengan hasil survei gelombang ketiga pada Februari 2021, hanya 25 persen masyarakat yang menilai kondisi ekonomi pada saat itu baik.

Peningkatan signifikan ini, menunjukkan lebih banyak masyarakat Indonesia yang merasakan adanya pemulihan ekonomi nasional secara nyata.

Pemulihan ekonomi terasa semakin nyata, seiring dengan perbaikan situasi keuangan pribadi masyarakat. Secara keseluruhan, mayoritas masyarakat di Asia Tenggara (76 persen) merasa bahwa kondisi keuangan pribadi mereka membaik.

Singapura adalah negara dengan persentase masyarakat terbanyak yang mengakui kondisi keuangan pribadinya membaik (83 persen), disusul Vietnam dan Filipina (masing-masing 79 persen), Malaysia (76 persen), Indonesia sebanyak 75 persen, dan Thailand dengan persentase terendah (64 persen).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini