Share

Hadapi Tapering The Fed, Apa Jurus BI?

Anggie Ariesta, Jurnalis · Kamis 19 Agustus 2021 16:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 19 320 2457962 hadapi-tapering-the-fed-apa-jurus-bi-zLZMS7nzwl.jpg Gubernur BI Perry Warjiyo (Foto: Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melihat ketidakpastian pasar keuangan global yang semakin menurun di tengah rencana tapering oleh The Fed (Bank Sentral AS).

"Ketidakpastian pasar keuangan global menurun meski dibayangi rencana pengurangan The Fed dan pengurangan varian kasus Delta," kata Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (19/8/2021).

Menurut Perry, komunikasi dari Bank Sentral AS dari kerangka kebijakan dan indikator serta langkah yang ditempuh memberikan ketenangan dan persepsi positif di pasar.

"Ini mendorong aliran modal ke negara berkembang termasuk Indonesia. Dan membuat penguatan mata uang di negara tersebut," kata Perry.

Tapering sendiri adalah pengurangan surat utang yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat (US treasury) oleh The Fed. BI juga melihat perbaikan ekonomi dunia akan berlanjut sesuai dengan perkiraan sebelumnya.

Perry juga meyakini dampak kebijakan tapering dari The Fed terhadap Indonesia tidak akan seburuk kondisi taper tantrum pada 2013-2014 lalu.

Perry menyampaikan, yang pertama ada komunikasi yang lebih jelas antara bank sentral dan pelaku pasar. Sehingga kebijakan yang dikeluarkan dan reaksi pelaku pasar bisa sejalan atau tidak menimbulkan kepanikan.

"The Fed komunikasinya jelas, kerangka kerjanya kayak apa, inflasi dan pengangguran dan rencana taperingnya. Tentu saja dengan demikian, pasar semakin memahami pola kerja, kerangka kerja Fed," jelasnya.

Kedua, BI memiliki instrumen triple intervention yang meliputi Domestic Non-Delivery Forward (DNDF), di pasar spot, sampai ke pasar Surat Berharga Negara (SBN).

"Kerjasama BI dan Kemenkeu, bagaimana perbedaan yield SBN dalam dan luar negeri. Itu akan menarik investor asing," katanya.

Ketiga adalah cadangan devisa Indonesia yang tinggi yaitu mencapai USD 137,4 miliar. Perry memastikan devisa cukup bila ada gejolak yang memukul nilai tukar rupiah.

"Jadi jauh lebih cukup untuk stabilisasi," tegas Perry.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini