Duh, Kerugian Garuda Indonesia Bengkak Jadi Rp12,8 Triliun di Semester I-2021

Aditya Pratama, Jurnalis · Selasa 31 Agustus 2021 11:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 31 278 2463751 duh-kerugian-garuda-indonesia-bengkak-jadi-rp12-8-triliun-di-semester-i-2021-vmc4S5BwZf.png Kerugian Garuda Indonesia Kian Bertambah. (Foto: Okezone.com/Garuda)

JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) membukukan kenaikan rugi bersih pada kuartal II-2021. Perseroan mencatatkan rugi sebesar USD898,65 juta atau setara Rp12,88 triliun, naik 26,08% dibanding 30 Juni 2020 sebesar USD712,72 juta.

Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar USD696,80 juta atau turun 24,03% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD917,28 juta dengan rugi per saham dasar USD0,03472.

Baca Juga: Garuda Indonesia dan Rolls Royce Sepakat Berdamai

Adapun pendapatan usaha Perseroan terdiri atas penerbangan berjadwal, penerbangan tidak berjadwal, dan lainnya. Penerbangan berjadwal menyumbang terbesar ke pendapatan sebesar USD556,53 juta atau lebih rendah dari sebelumnya USD750,25 juta.

Kemudian, penerbangan tidak terjadwal tercatat USD41,63 juta atau lebih tinggi dari sebelumnya USD21,54 juta dan lainnya tercatat USD98,63 juta atau lebih rendah dari sebelumnya USD145,47 juta.

GIAA mencatatkan adanya penurunan beban usaha di kuartal II-2021 menjadi USd1,38 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu USD1,64 miliar beban operasional penerbangan turun menjadi USD769,35 juta dari sebelumnya USD945,58 juta. Sementara itu, beban pemeliharaan dan perbaikan menjadi USD313,53 juta dari sebelumnya USD224,42 juta.

Pada 30 Juni 2021, Grup mengalami kerugian sebesar USD901,6 juta dan liabilitas jangka pendek Grup melebihi aset lancarnya sejumlah USD4,66 miliar dan Grup mengalami defisiensi ekuitas sebesar USD2,84 miliar. Pandemi COVID-19, diikuti dengan pembatasan perjalanan, telah menyebabkan penurunan perjalanan udara yang signifikan, dan memiliki dampak buruk pada operasi dan likuiditas Grup.

Sebagai bagian dari usaha berkesinambungan untuk menghadapi dan mengelola kondisi diatas, Grup mengambil langkah-langkah yang telah dan akan dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai berikut:

- Optimalisasi pendapatan penumpang berjadwal baik rute domestik dan internasional melalui optimalisasi produksi serta strategi dynamic pricing;

- Meningkatkan pendapatan kargo berjadwal, salah satunya dengan melakukan penerbangan cargo only selama masa pandemi untuk mengkompensasi penurunan pendapatan dari penumpang sesuai dengan peraturan yang berlaku;

Baca Juga: Erick Thohir: Ini Momen Bersih-Bersih Garuda Indonesia

- Menutup rute-rute yang tidak menghasilkan profit;

- Rightsizing untuk meningkatkan margin di rute-rute potensial;

- Meningkatkan charter revenue yang berkelanjutan dengan membuat kerjasama kemitraan jangka pendek dan jangka panjang;

- Menerapkan protokol COVID-19 pada seluruh titik layanan Garuda Indonesia (Cleanliness, Safety and Healthiness), serta melakukan campaign melalui social media;

- Meningkatkan arus kas dengan mengganti cadangan pemeliharaan dengan jaminan pembayaran (SBLC) dari pihak perbankan;

- Secara aktif mencari alternatif pendanaan terkait utang dan pinjaman yang akan jatuh tempo;

- Sinergi Garuda Indonesia Grup melalui keselarasan rute dan penetapan jadwal penerbangan yang disesuaikan dengan permintaan pasar; dan

- Melakukan negosiasi dengan lessor terkait penurunan biaya sewa pesawat, penundaan kedatangan pesawat baru, maupun opsi early redelivery pesawat.

Kas bersih diperoleh dari aktivitas operasi tercatat USD56,33 juta kas bersih digunakan untuk aktivitas investasi tercatat USD203,05 juta dan kas bersih diperoleh dari aktivitas pendanaan tercatat USD26,55 juta.

Garuda Indonesia mencatatkan liabilitas sebesar USD12,96 miliar dan ekuitas minus USD2,84 miliar. Adapun total aset perseroan turun menjadi USD10,11 miliar dibanding tahun 2020 sebesar USD10,78 miliar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini