Share

Bos KAI Sebut Utang Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Rp64,9 Triliun

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Rabu 01 September 2021 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 01 320 2464500 bos-kai-sebut-utang-proyek-kereta-cepat-jakarta-bandung-rp64-9-triliun-4dAcwcctwW.jpg Kereta Cepat (Foto: Okezone.com/KCIC)

JAKARTA - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) Didiek Hartantyo menyebut dana pinjaman untuk pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) senilai USD4,55 miliar atau setara Rp 64,9 triliun.

Jumlah dana pinjaman tersebut setara dengan 75% dari total nilai investasi KCJB sebesar 6,07 miliar dolar AS. Pinjaman sendiri bersumber dari China Development Bank (CDB).

"Nilai 6,07 miliar dolar AS itu, komposisi sumber dananya adalah 75 persen dari pinjaman China Development Bank, kemudian 25 persen berasal dari ekuiti dari KCIC," ujar Didiek saat rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR, Rabu (1/9/2021).

Baca Juga: Ambisi China Bangun Proyek Kereta Cepat di Asia Tenggara

Pinjaman tersebut disepakati sejak 12 Mei 2017 lalu dengan tenor 40 tahun, masa tenggang 10 tahun, dan availability period hingga 2022. Sementara, suku bunga pinjaman 2 persen untuk dolar AS dan 3,5 persen untuk yuan.

"Ini baru diperpanjang pada tanggal 7 Mei 2021 sesuai dengan consent and waiver letter CBD, sebelumnya availability sampai dengan 14 Mei 2021," kata dia.

Untuk pembiayaan ditahap Engineering Procurement Construction (EPC) atau tahapan desain perencanaan, pengadaan barang dan jasa, hingga konstruksi mencapai 4,7 miliar dolar AS. Nilai EPC sudah termasuk dalam nilai keseluruhan proyek strategi nasional tersebut (PSN).

Baca Juga: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Kurang Biaya, RI Pinjam Duit ke Bank China

Meski begitu, anggaran sebesar Rp 64,9 triliun baru berupa capital expenditure (capex) atau belanja modal awal.

"Belum, ini masih awal Pak. Jadi ini nilai capex awal. Nilai project 6,07 miliar dolar AS tadi, maka EPC-nya nilainya 4,7 miliar dolar AS jadi dari 6,07 miliar dolar AS 4,7 miliar dolar AS itu merupakan EPC," ungkap dia.

PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sendiri terdiri dari dua konsorsium. Pertama, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), dimana sejumlah perusahaan negara bergabung di dalamnya.

Secara komposisi saham, PT Wijaya Karya (Persero) memiliki 38%, kemudian KAI 25%, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, 12%, dan PTPN VIII 25%. Jadi, total aset BSBI sebesar 60% di KCJB.

Kemudian 40% saham lainnya dimiliki konsorsium China yaitu Beijing Yawan HSR Co. Ltd. Konsorsium ini terdiri atas 5 perusahaan yakni CRIC dengan saham 5%, CREC sebanyak 42,88%, Sinohydro 30%, CRCC 12%, dan CRSC 10,12%.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini