Share

Kereta Cepat Jakarta-Bandung Kurang Biaya, RI Pinjam Duit ke Bank China

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 08 Juli 2021 21:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 08 320 2437785 kereta-cepat-jakarta-bandung-kurang-biaya-ri-pinjam-duit-ke-bank-china-gKOLsRtQXW.jpg Biaya Kereta Cepat Jakarta-Bandung Diperkirakan Kurang. (Foto: Okezone.com/KCIC)

JAKARTA - Pemerintah berencana melakukan pinjaman ke China Development Bank (CDB). Proses negosiasi pun sedang dilakukan dengan CDB.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pinjaman untuk mendukung operasional Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB). Meski demikian, belum diketahui secara pasti berapa jumlah pinjaman yang akan diajukan pemegang saham.

Baca Juga: Jalan di Atas Terowongan Proyek Kereta Cepat Ambles

Dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Kartika menjelaskan, pinjaman dilakukan untuk mendukung operasional awal KCJB. Sebab, dalam perhitungannya, KCJB akan mengalami cost deficiency atau kekurangan biaya saat awal beroperasi.

Proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) tersebut pun ditarget rampung sebelum 2022. Saat ini proses konstruksi terus dilakukan.

Baca Juga: Bandung Barat Longsor, Terowongan Kereta Cepat Jakarta Bandung Roboh?

"Operasional awal (KCJB), cash flow-nya negatif yang akan terjadi di awal-awal operasi ini, kita sedang skemakan dengan pembiayaan dari bank, dalam hal ini China Development Bank," ujar Kartika, Kamis (8/7/2021).

Dalam prosesnya, PT KAI (Persero) akan membentuk sinking fund atau saluran dana yang wajib masuk dalam daftar perencanaan keuangan. Sinking fund tersebut harus memperoleh jaminan dari negara. Dengan begitu, pengajuan pinjaman sendiri dijamin manajemen KAI.

Tiko, sapaan akrab Kartika juga mencatat, Kereta Cepat Jakarta Bandung kemungkinan mengalami cost overrun karena persoalan keterlambatan pembebasan lahan di Depo Bekasi, Jawa Barat. Nilai pembengkakan konstruksi itu diperkirakan mencapai USD1,4 miliar - USD1,9 miliar atau setara Rp20,39 triliun - Rp27,6 triliun.

Terkait hal itu, pemerintah tengah bernegosiasi dengan otoritas China untuk memenuhi biaya cost overrun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini