Bioskop Mau Dibuka Lagi, Bagaimana Pergerakan Saham BLTZ hingga FILM?

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Senin 13 September 2021 09:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 13 278 2470383 bioskop-mau-dibuka-lagi-bagaimana-pergerakan-saham-bltz-hingga-film-Cxq55lSAAW.jpg Bioskop Mau Dibuka Lagi (Foto: Baamboozle)

JAKARTA - Intip pergerakan saham emiten hiburan di tengah rencana pembukaan bioskop pada 14 September 2021. Rencana pembukaan bioskop di tengah melandainya kasus Covid-19.

Jelang dibukanya bioskop, sejumlah emiten hiburan terpantau bergerak variatif sepanjang pekan ini, menilik data Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (13/9/2021).

Emiten pengelola bioskop CGV dan fasilitas makanan-minuman PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) terpantau mulai menunjukkan optimisme. Meski valuasi bulanan masih terpuruk (-3.53%), tetapi sepekan menunjukkan positif (12,33%). Secara year do date, BLTZ masih menguat (13,04%).

Baca Juga: Bioskop Akan Dibuka Mulai 14 September, Tingkat Kunjungan ke Mal Bisa Meningkat?

 

Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, pergerakan BLTZ masih terlihat cukup monoton alias tidak likuid.

"BLTZ masih tidak likuid," katanya saat dihubungi MNC Portal, Jakarta, Senin (13/9/2021).

Hal ini dilihat dari laporan keuangan terakhir menunjukkan emiten berkode BLTZ ini masih mengalami kerugian Rp168 miliar selama semester I-2021, membaik tipis dari periode tahun sebelumnya yang menembus Rp185 miliar. Pada akhir pekan lalu, BLTZ ditutup anjlok (-3,24%) di level 3280.

Sementara, PT MD Pictures Tbk (FILM) melaporkan penjualannya mencapai Rp126 miliar, melesat 443% dengan laba bersih Rp35,98 miliar.

Adapun emiten berkode FILM ini masih berada di range positif secara year to date (77,89%). Namun, valuasi sepekan hingga tiga bulan terakhir masih berada di zona merah yakni: sepekan (-6,11%), sebulan (-12,44%), dan tiga bulan (-16,75%).

FILM terpantau berada di zona merah empat hari berturut-turut pekan lalu, dan ditutup merosot (-2,33%) di 336.

William melihat emiten FILM masih menunjukkan tren penurunan. "FILM masih downtrend," tuturnya.

Selanjutnya, PT Dyandra Media Internasional Tbk (DYAN) sebagai perusahaan penyedia fasilitas jasa pertemuan dan pameran (Meetings, Incentives, Conventions, dan Exhibitions / MICE).

Emiten berkode DYAN memiliki rekam jejak keuangan yang membaik dari periode tahun sebelumnya yaitu pendapatan perusahaan yang tumbuh mencapai Rp143,71 miliar. Kerugian bersih senilai Rp54,41 miliar, turun 42,13% dari tahun lalu.

William justru merekomendasikan saham ini lantaran dari segi pengamatan teknikal, DYAN telah menemukan titik supportnya di level 87 dan 82.

"DYAN direkomendasikan, buy on weakness, take profit (TP) di 102-120," tuturnya.

Seperti diketahui, harapan dibukanya kembali bioskop dapat memacu kembali industri perfilman tanah air menyusul pelonggaran di pusat perbelanjaan dan mal di kota-kota besar.

“Kita mengharapkan 60% (bioskop) seluruh indonesia dibuka dulu, karena ini menyangkut market pemilik film. Kita minta di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor, Depok, buka, baru bisa suplai ke seluruh Indonesia,” terang Ketua GPBSI Djonny.

Apabila bioskop masih tutup, maka peluang akan datang terhadap platform penyedia layanan streaming alias nonton bioskop secara daring.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini