Astaga! Ternyata AS Punya Utang Rp400.000 Triliun

Anggie Ariesta, Jurnalis · Jum'at 24 September 2021 13:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 24 320 2476245 astaga-ternyata-as-punya-utang-rp400-000-triliun-Z5tcN1HGDf.jpg Utang Amerika Rp400.000 Triliun (Foto: Reuters)

JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dikabarkan mempunyai utang yang sangat besar. Berdasarkan data Statista per Agustus 2021, utang AS mencapai USD28,4 triliun atau setara Rp404.500 triliun.

Posisi utang tersebut telah mencapai batas maksimal sehingga AS tidak bisa menambah utang tanpa kebijakan penangguhan.

Menurut laporan yang dirilis Moody's Analytics, mereka memperingatkan jika kegagalan pembayaran utang ini benar-benar terjadi, akan menjadi "pukulan bencana" bagi pemulihan ekonomi Amerika dari Covid-19. Bahkan disebut bisa memicu penurunan ekonomi yang akan menyaingi resesi hebat.

Dampak besar lainnya, jika gagal bayar utang ini terus menemui kebuntuan dan berlarut-larut, resesi berikutnya akan menghilangkan hampir 6 juta pekerjaan dan mengangkat tingkat pengangguran nasional menjadi hampir 9 persen.

"Kehancuran pasar akan memangkas sepertiga harga saham, menghapus sekitar USD15 triliun kekayaan rumah tangga. Skenario ekonomi ini adalah bencana besar," tulis Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi dilansir CNN, Jumat (24/9/2021).

Departemen Keuangan AS juga memperkirakan akan kehabisan uang tunai di bulan Oktober kecuali Kongres menaikkan plafon utang.

Terlepas dari momok default, Partai Republik telah menolak untuk mendukung peningkatan batas utang sebagian karena kekhawatiran tentang rencana pengeluaran besar pemerintahan Presiden Joe Biden. Moody's Analytics mencatat jika pasar keuangan tidak panik tentang showdown plafon utang ini, menunjukkan ada keyakinan kuat bahwa Kongres pada akhirnya akan bertindak.

Demikian pula dampak terhadap bursa saham AS Wall Street sejauh ini jauh lebih kecil dibandingkan kebuntuan yang sempat terjadi pada 2011 dan 2013. Zandi menyebut ini akan menjadi kesalahan yang mengerikan.

"Ironisnya, karena investor tampak begitu optimis tentang bagaimana drama ini akan dimainkan, pembuat kebijakan mungkin percaya bahwa mereka tidak perlu khawatir dan gagal menyelesaikan batas utang tepat waktu," tulis Zandi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini