Kisah Hui Ka Yan, dari Buruh Pabrik Jadi Miliarder Pemilik Evergrande Punya Utang Rp4.000 Triliun

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 24 September 2021 08:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 24 455 2476125 kisah-hui-ka-yan-dari-buruh-pabrik-jadi-miliarder-pemilik-evergrande-punya-utang-rp4-000-triliun-22xgjfXLa0.jpg Hui Ka Yan (Foto: BBC Indonesia)

JAKARTA - Direktur dan pendiri raksasa pengembang properti China, Evergrande, Xu Jiayin pada 21 September menulis surat untuk karyawan perusahaan yang ia pimpin yang berjumlah tak kurang dari 125.000 orang.

"Saya meyakini, dengan kerja sama di antara jajaran pimpinan dan seluruh karyawan ... jika kita terus berjuang, tabah menjalani perjuangan ini, kita akan bisa keluar dari masa-masa gelap ini segera," kata Xu Jiayin seperti dilansir BBC Indonesia, Jumat (24/9/2021).

Surat ini ia tulis ketika perusahaannya menghadapi persoalan serius: terancam bangkrut. Utang yang dicatat Evergrande diperkirakan mencapai tak kurang dari USD300 miliar atau sekitar Rp4.260 triliun.

Baca Juga: 9 Miliarder Paling Dermawan, Amal Rp517 Triliun

Dalam sejarah tak ada perusahaan di dunia ini yang memiliki utang sebesar ini.

Muncul kekhawatiran jika Evergrande gagal membayar bunga dan tak bisa mengembalikan utang USD300 miliar, maka ambruknya pengembang yang berkantor pusat di Shenzhen ini dapat memicu kekacauan keuangan global.

Evergrande telah mengembangkan 876 proyek di lahan seluas 293 juta meter persegi dan punya proyek di seluruh provinsi di China, menurut laporan tahunan perusahaan yang dikeluarkan pada 2019.

Baca Juga: Kisah Buruh Pabrik Cuan Rp10 Miliar dari Investasi Saham

Namun setelah pemerintah pusat di Beijing memberlakukan peraturan baru pada Januari yang ditujukan untuk mengontrol utang perusahaan-perusahaan properti, Evergrande tak bisa memenuhi kewajiban membayar cicilan bunga.

Siapa Xu Jiayin

Xu Jiayin, yang juga dikenal dengan nama Hui Ka Yan, lahir pada 1958 di Desa Jutaigang, Provinsi Henan, di China barat.

Media pemerintah menyebutkan ayahnya adalah anggota Tentara Revolusioner dan ikut bertempur melawan Jepang sedangkan sang ibu meninggal sebelum ia menginjak usia satu tahun.

Sejak meninggalnya sang ibu, Xu Jiayin diasuh dan dibesarkan oleh neneknya,

Sebelum memegang gelar sebagai salah satu orang terkaya di China, Xu Jiayin pernah menjadi pekerja kasar. Menurut media di China, ia pernah menjadi sopir traktor yang mengangkut kotoran sapi, hingga bekerja di pabrik semen.

Pada awal 1970-an ia masuk ke Institut Besi dan Baja Wuhan, lembaga pendidikan yang sekarang bernama Universitas Sains dan Teknologi Wuhan.

Setelah lulus, ia bekerja di pabrik besi dan baja selama beberapa tahun sebelum mendirikan Evergrande Group pada 1996.

Evergrande melakukan banyak investasi properti yang membuat perusahaannya mendapatkan dana USD722 juta saat menawarkan saham pada 2009. Seiring dengan tumbuhnya perekonomian China, Evergrande juga berkembang pesat.

Pada 2018, Brand Finance menempatkan Evergrande sebagai perusahaan real estate dengan nilai terbesar di dunia. Xu Jiayin memiliki 70% saham Evergrande, membuat nilai kekayaan dirinya menembus hampir USD11 miliar, menurut penelusuran majalah Forbes.

Di daftar orang terkaya di dunia, ia berada di urutan 53, dan di China berada di urutan 10.

Di luar sektor properti, Evergrande menjadi pembicaraan ketika membeli klub sepak bola di Guangzhou pada 2010 seharga USD15 juta. Empat tahun kemudian Xu Jiaying menjual sahamnya di klub ke perusahaan e-commerce Alibaba seharga USD192 juta.

Di bawah kepemimpinannya, ia mengubah klub kemudian bernama Guangzhou Evergrande menjadi klub yang sangat disegani di China. Ia menggelontorkan banyak uang untuk mendatangkan pelatih dan pemain internasional.

Pada 2012 ia menarik perhatian nasional saat hadir di pertemuan Partai Komunis dengan mengenakan ikat pinggang mewah merek Hermes. Ikat pinggangnya ini disebut sebagai yang termahal dalam perhelatan politik ini.

Beberapa kalangan menduga kesuksesan Evergrande antara lain disebabkan oleh hubungan dekat Xu Jiayin dengan para pejabat penting. Namun Xu Jiayin menyebut kesuksesan dirinya karena pendidikan dan jasa Partai Komunis.

"Tanpa [pendidikan di] perguruan tinggi, saya pasti masih berada di desa. Tanpa bantuan uang pemerintah, saya tak mungkin bisa masuk ke universitas. Tanpa reformasi [yang dijalankan pemerintah], Evergrande tak akan sebesar sekarang," katanya dalam satu kesempatan, seperti dikutip kantor berita AFP.

Ia menambahkan kesuksesan Evergrande karena jasa Partai Komunis, negara, dan masyarakat. Zhiwu Chen, direktur Asia Global Institute dan pengajar di University of Hong Kong, kepada BBC Mundo menjelaskan, koneksi politik memungkinkan Xu Jiayin dan Evergrande mendapatkan utang dalam jumlah besar meski sebenarnya mendapatkan pinjaman besar sering kali menghadapi kendala regulasi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini