KRAS Bakal Tambah Saham di Krakatau Posco Jadi 50%

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Kamis 30 September 2021 13:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 30 278 2479232 kras-bakal-tambah-saham-di-krakatau-posco-jadi-50-qvpMVZKhBG.jpg Krakatau Steel bakal tambah saham Krakatau Posco (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Kementerian BUMN mengharapkan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) bisa menambah saham pada perusahaan patungan PT Krakatau Posco menjadi 50% dari saat ini 30%. Hal ini dilakukan untuk mendukung pengembangan dan pertumbuhan bisnis

“Bersama Posco, kami negosiasi dari tadinya minoritas, paling tidak 50:50 karena partnership dengan Posco ini luar biasa. Saya berterima kasih kerja sama dengan Posco selama 6-7 tahun terakhir ini net income sangat positif dari Posco," kata Menteri BUMN, Erick Thohir di Jakarta, kemarin.

Baca Juga: KPK Terima Laporan Erick Thohir Dugaan Korupsi di Krakatau Steel

Disampaikannya, saat ini dirinya bersama direksi Krakatau Steel tengah melakukan negosiasi dengan mitra Korea Selatan tersebut. Dimana apabila akuisisi dijalankan, maka porsi kepemilikan saham KRAS tersebut di Krakatau Posco akan imbang dengan kepemilikan mitra strategisnya Pohang Iron and Steel Company (Posco).

Seperti diketahui, Krakatau Posco mengelola pabrik baja terintegrasi dengan teknologi blast furnace pertama di Indonesia yang mulai beroperasi sejak 2014.

Baca Juga: Utang Krakatau Steel Rp31 Triliun, Erick Thohir Soroti Proyek Ini

Dia juga mengapresiasi respons positif Posco yang memiliki nilai pasar terbesar di dunia sebagai produsen baja tersebut. Pasalnya, Posco bisa saja menolak keinginan pemerintah untuk menambah sahamnya di anak usaha yang fokus memproduksi baja tersebut. "Pendekatan B to B secara profesional saya juga datang beberapa kali, ini membuat mitra kita percaya diri," urainya.

Erick juga menegaskan, industri baja impor masih banyak yang perlu diperbaiki dan Indonesia wajib menjaga rantai pasoknya agar mengurangi impor baja, sehingga memberikan produk berkualitas dengan harga kompetitif. "Kami efisiensi juga besar-besaran. Akhirnya restrukturisasi utang, perbaikan arus kas, ada proyek-proyek berjalan baik, efisiensi, akhirnya yang tadinya KRAS 8 tahun rugi, sekarang bisa untung Rp800 miliar," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menerangkan proyek blast furnace diinisiasi pada 2008 dan memasuki masa konstruksi pada tahun 2012, jauh sebelum dirinya bergabung di Krakatau Steel pada akhir 2018 telah mendapatkan penyelesaiannya.

"Manajemen saat ini sudah mendapatkan solusi agar fasilitas atau pabrik yang tadinya mangkrak bisa jadi produktif,” jelasnya.

Silmy melanjutkan bahwa saat ini Krakatau Steel sudah memiliki dua calon mitra strategis, bahkan satu calon sudah menandatangani Memorandum of Agreement (MOA) dengan Krakatau Steel. Satu mitra lagi sudah menyampaikan surat minat untuk bekerja sama dalam hal blast furnace. Artinya sudah ada solusi atas proyek blast furnace. Ditargetkan pada kuartal III/2022 akan dioperasikan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini