Kemungkinan peredam harga minyak adalah krisis listrik dan kekhawatiran pasar perumahan di China, yang telah memukul sentimen karena setiap kejatuhan untuk ekonomi terbesar kedua di dunia itu, kemungkinan akan mempengaruhi permintaan minyak, kata para analis.
Aktivitas pabrik-pabrik China secara tak terduga menyusut pada September, karena pembatasan yang lebih luas pada penggunaan listrik dan kenaikan harga-harga bahan baku.
Sementara itu, persediaan telah naik pada konsumen minyak utama Amerika Serikat. Data pemerintah pada Rabu (29/9) menunjukkan stok minyak dan bahan bakar AS meningkat 4,6 juta barel menjadi 418,5 juta barel pekan lalu.
Kenaikan persediaan AS minggu lalu terjadi karena produksi di Pesisir Teluk kembali mendekati level yang dicapai sebelum Badai Ida melanda kawasan tersebut sekitar sebulan lalu.
Dalam perkembangan bearish lainnya, dolar AS mencapai level tertinggi baru satu tahun pada hari sebelumnya, membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Tetapi ekspektasi defisit pasokan minyak mentah yang berkelanjutan membantu mendukung harga.
OPEC+ minggu depan diperkirakan akan mempertahankan kesepakatan untuk menambah 400.000 barel per hari ke produksinya untuk November.
"Rystad Energy memperkirakan kelompok produsen itu mengambil pendekatan menunggu dan melihat, paling tidak karena kelompok tersebut belum menunjukkan kemampuannya untuk meningkatkan pasokan minyak dengan cepat," kata Louise Dickson, analis pasar minyak senior di Rystad Energy.
Pembicaraan yang terhenti antara Iran dan kekuatan dunia untuk mengembalikan kesepakatan nuklir 2015 akan dilanjutkan "segera", Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan pada Kamis (30/9). Kesepakatan nuklir seharusnya memungkinkan Iran mengekspor lebih banyak minyak mentah.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.