Heboh Pandora Papers! Pimpinan Dunia hingga Miliarder Sembunyikan Harta Tak Terduga, Ini Daftarnya

Senin 04 Oktober 2021 14:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 04 320 2481004 heboh-pandora-papers-pimpinan-dunia-hingga-miliarder-sembunyikan-harta-tak-terduga-ini-daftarnya-rfZed9t43Q.jpg Properti Raja Yordania. (Foto: Okezone.com/BBC Indonesia)

JAKARTA - Kekayaan dan urusan bisnis rahasia dari para pemimpin dunia, politikus dan kaum konglomerat diungkap dalam salah satu aksi pembocoran dokumen keuangan terbesar.

Sekitar 35 pemimpin masih aktif maupun tidak lagi menjabat dan lebih dari 300 pejabat publik tercakup dalam dokumen dari perusahaan luar negeri (offshore) atau perusahaan yang didirikan di luar yurisdiksi negara masing-masing.

Dokumen ini diberi nama Pandora Papers. Dokumen yang dibocorkan, antara lain, mengungkapkan bahwa Raja Yordania, Abdullah diam-diam membelanjakan lebih dari USD100 juta (Rp1,4 triliun lebih) untuk membangun kerajaan properti di AS dan Inggris.

Baca Juga: Pandora Papers, Bocoran Dokumen Keuangan Ungkap Kekayaan Rahasia Pemimpin Dunia

Mereka juga mengungkapkan mantan PM Inggris Tony Blair dan istrinya menghindari biaya meterai sebesar £312.000 (Rp6 miliar lebih) ketika mereka membeli gedung perkantoran di London.

Pasangan itu membeli sebuah perusahaan di luar negeri yang memiliki gedung tersebut.

Aksi pembocoran juga menghubungkan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan berbagai aset bersifat rahasia di Monako.

Dokumen itu juga menunjukkan bahwa Perdana Menteri (PM) Ceko, Andrej Babis tidak melaporkan perusahaan investasi di luar negeri yang digunakannya untuk membeli dua vila seharga £12 juta (Rp231,9 miliar lebih) di wilayah selatan Prancis.

Baca Juga: 7 Fakta Penting Panama Papers yang Wajib Anda Ketahui

Pemeriksaan berkas terbesar yang digelar oleh International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), melibatkan lebih dari 650 orang jurnalis.

BBC Panorama dalam penyelidikan bersama dengan Guardian dan mitra media lainnya telah memiliki akses ke hampir 12 juta dokumen dan berkas-berkas dari 14 perusahaan jasa keuangan di sejumlah negara, termasuk British Virgin Islands, Panama, Belize, Siprus, Uni Emirat Arab, Singapura dan Swiss.

Sejumlah figur menghadapi tuduhan korupsi, pencucian uang dan penghindaran pajak global. Tetapi salah satu pengungkapan terbesar adalah bagaimana orang-orang terkemuka dan kaya-raya mendirikan perusahaan secara legal untuk secara diam-diam membeli properti di Inggris.

Dokumen-dokumen tersebut mengungkapkan bahwa sejumlah pemilik dari 95.000 perusahaan offshore berada di balik pembelian tersebut.

Temuan ini menyoroti kegagalan pemerintah Inggris untuk memperkenalkan daftar pemilik properti asal luar negeri, meskipun berulang kali berjanji untuk melakukannya, di tengah kekhawatiran sejumlah pembeli properti dapat menyembunyikan kegiatan praktik pencucian uang.

Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev dan keluarganya, yang dituduh melakukan korupsi di negara mereka sendiri, adalah salah satu contohnya.

Penyelidikan menemukan keluarga Aliyev dan mitra terdekatnya diam-diam terlibat dalam kesepakatan properti di Inggris senilai lebih dari £400 juta.

Pengungkapan ini terbukti memalukan bagi pemerintah Inggris, karena keluarga Aliyev tampaknya telah menghasilkan keuntungan £31 juta setelah menjual salah satu properti mereka di London kepada Crown Estate - properti kerajaam milik Ratu yang dikelola The Treasury dan mengumpulkan dana untuk kepentingan negara.

Banyak transaksi dalam dokumen tidak melanggar hukum.

"Tidak pernah ada apa pun dalam skala ini dan itu menunjukkan kenyataan dari apa yang dapat ditawarkan perusahaan di luar negeri untuk membantu orang-orang menyembunyikan uang tunai bermasalah atau menghindari pajak," kata ICIJ, Fergus Shiel, dilansir dari BBC Indonesia, Senin (4/10/2021).

"Mereka menggunakan rekening di luar negeri itu, perwalian di luar negeri, untuk membeli ratusan juta dolar properti di negara lain, dan untuk memperkaya keluarga mereka sendiri, dengan mengorbankan warga negara mereka," sambungnnya.

ICIJ meyakini penyelidikan itu "membuka kotak pada banyak hal" - maka dia diberi nama Pandora Papers.

Properti milik Raja Yordania di Malibu

Dokumen keuangan yang bocor menunjukkan bagaimana Raja Yordania diam-diam membelanjakan lebih dari USD100 juta untuk membangun kerajaan properti di AS dan Inggris.

Mereka mengidentifikasi jaringan perusahaan offshore di British Virgin Islands dan surga pajak lainnya yang digunakan oleh Abdullah II bin Al-Hussein untuk membeli 15 rumah sejak dia mengambil alih kekuasaan pada 1999.

Di antaranya yang mereka identifikasi adalah tiga properti senilai £50m dengan panorama laut yang berdekatan di Malibu, California, dan properti di London dan Ascot di Inggris.

Tim pengacara Raja Abdullah mengatakan sang raja menggunakan kekayaan pribadi untuk membeli semua properti, yang juga dia gunakan untuk mendanai berbagai proyek untuk kepentingan warga Yordania.

Mereka mengatakan hal itu merupakan praktik umum bagi kalangan elit untuk membeli properti melalui perusahaan di luar negeri demi alasan privasi dan keamanan.

Sejumlah pihak yang disebut dalam Pandora Papers:

Presiden Kenya Uhuru Kenyatta dan enam anggota keluarganya diam-diam memiliki jaringan perusahaan di luar negeri. Mereka telah dikaitkan dengan 11 perusahaan, salah satunya dinilai memiliki aset senilai USD30 juta.

Anggota lingkaran dalam Perdana Menteri (PM) Pakistan Imran Khan, termasuk sejumlah menteri kabinet dan keluarganya, diam-diam memiliki perusahaan dan perwalian dengan nilai jutaan dolar.

Firma hukum yang didirikan Presiden Nicos Anastasiades dari Siprus tampaknya menyodorkan pemilik palsu untuk menyamarkan pemilik sebenarnya dari serangkaian perusahaan di luar negeri - mantan politikus Rusia yang dituduh melakukan penggelapan. Namun, firma hukum membantahnya Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengalihkan sahamnya di sebuah perusahaan di luar negeri yang bersifatrahasia tepat sebelum ia memenangkan pemilu 2019.

Presiden Ekuador Guillermo Lasso, mantan bankir, menggantikan yayasan Panama yang melakukan pembayaran bulanan kepada anggota keluarga dekatnya dengan perwalian yang berbasis di South Dakota di AS

Tidak ada bea materai pada pembelian gedung perkantoran Blair. Tony and Cherie Blair in 2020

Tidak ada petunjuk di Pandora Papers bahwa Tony dan Cherie Blair menyembunyikan kekayaan mereka. Tetapi dokumen tersebut menunjukkan mengapa bea materai tidak dibayarkan ketika pasangan itu membeli properti senilai £6,45 juta.

Mantan perdana menteri dari Partai Buruh itu dan istrinya, Cherie, mengakuisisi gedung di Marylebone, London pusat, pada Juli 2017 dengan membeli perusahaan di luar negeri yang memilikinya.

Merupakan sesuatu yang legal untuk memperoleh properti di Inggris dengan cara ini dan bea materai tidak harus dibayar - tetapi Blair sebelumnya bersikap kritis terhadap celah di dunia perpajakan.

Sebuah townhouse di Marylebone, London tengah, saat ini menjadi rumah bagi konsultan hukum Nyonya Blair, yang memberi nasihat kepada pemerintahan di seluruh dunia, serta yayasannya bagi kaum perempuan.

Cherie Blair mengatakan para penjual bersikeras mereka membeli rumah itu melalui perusahaan luar negeri.

Dia mengatakan mereka telah membawa properti itu kembali di bawah aturan Inggris dan akan bertanggung jawab untuk membayar pajak capital jika mereka menjualnya di masa mendatang.

Pemilik utama properti itu adalah keluarga dengan koneksi politik di Bahrain - tetapi kedua pihak mengatakan mereka awalnya tidak tahu dengan siapa mereka berurusan.

Anak laki-laki yang memiliki properti London senilai £33m

Dokumen lain menunjukkan bagaimana keluarga Aliyev yang berkuasa di Azerbaijan diam-diam mengakuisisi properti di Inggris dengan menggunakan perusahaan luar negeri.

Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bagaimana keluarga itu - yang telah lama dituduh korupsi di negara Eropa - membeli 17 properti, termasuk sebuah blok perkantoran senilai 33 juta poundsterling di London untuk putra presiden berusia 11 tahun, Heydar Aliyev.

Bangunan di Mayfair dibeli oleh sebuah perusahaan yang dimiliki oleh teman keluarga Presiden Ilham Aliyev pada 2009.

Lalu dipindahkan sebulan kemudian kepada Heydar. Riset ini juga mengungkapkan bagaimana blok perkantoran lain yang dimiliki oleh keluarga terdekat dijual kepada Crown Estate seharga £66 juta pada 2018.

The Crown Estate mengatakan telah melakukan pemeriksaan yang dipersyaratkan dalam undang-undang pada saat pembelian, tetapi saat ini sedang menyelidiki masalah tersebut.

Pemerintah Inggris mengatakan sedang menindak praktek pencucian uang dengan undang-undang yang ada dan menegakkannya lebih ketat, dan akan memperkenalkan daftar perusahaan luar negeri yang memiliki properti di Inggris melalui parlemen jika waktunya memungkinkan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini