Geger! 4 Perusahaan Properti China Gagal Bayar Utang di Ambang Kebangkrutan

Zikra Mulia Irawati, Jurnalis · Rabu 13 Oktober 2021 09:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 13 470 2485497 geger-4-perusahaan-properti-china-gagal-bayar-utang-di-ambang-kebangkrutan-scxxH7I5zQ.jpg Perusahaan Properti China Diambang Kebangkrutan. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Empat perusahaan pengembang real estate China dihadapkan dengan utang. Selain Evergrande, ada tiga perusahaan properti lain yang mengalami nasib serupa.

Dikutip dari CNN Business, Rabu (13/10/2021), nilai saham perusahaan-perusahaan tersebut telah turun lebih dari 50%. Tenggat pembayaran utang pun jatuh pada waktu dekat ini. Untuk informasi lebih lanjut, simak rincian berikut.

1. Evergrande

Kasus gagal bayar utang Evergrande telah menggemparkan sejak bulan kemarin dan membuat khawatir banyak pihak. Dengan total utang USD300 miliar atau Rp4.290 triliun (kurs Rp14.300 per USD), Evergrande menjadi perusahaan dengan utang tertinggi. 

Baca Juga: Mengintip Kota Kuno Berusia 500 Tahun Dibangun Pakai Lumpur

Pekan ini, Evergrande dilaporkan gagal menepati tenggat untuk membayar USD148 miliar atau Rp2.116,4 triliun. Ini adalah kasus gagal bayar ketiga yang mereka alami selama beberapa pekan terakhir.

Saham Evergrande pun telah menurun hingga 80% tahun ini. Nilai pasarnya bahkan kini hanya USD5 miliar atau Rp71,5 triliun dan belum dibeli sejak pekan lalu. Selain itu, muncul kabar bahwa rival perusahaan pengembang ingin membeli manajemen bisnis properti Evergrande.

2. Fantasia

Perusahaan pengembang apartemen mewah, Fantasia, pekan lalu dilaporkan gagal membayar utang USD315 juta atau Rp4,5 triliun.

Baca Juga: Skema Terburuk Atasi Gagal Bayar Raksasa Properti Evergrande

Utang itu terdiri dari USD206 juta (Rp2,94 triliun) pembayaran obligasi dan USD109 juta (Rp1,55 triliun) pinjaman kepada Country Garden, perusahaan pengembang terbesar kedua di China.

Saham perusahaan yang berpusat di Kota Shenzen ini pun turun hingga 60% tahun ini dengan nilai pasar USD420 juta atau Rp6 triliun.

3. Modern Land

Perusahaan pengembang yang berpusat di Kota Beijing ini juga tengah berusaha membayar obligasi sebesar USD250 juta atau Rp3,57 triliun. Mereka meminta waktu tambahan untuk membayar hingga 25 Oktober.

Sementara Modern Land berusaha mengatasi permasalahan keuangan mereka, Ketua Zhang Lei dan Presiden Zhang Peng sampai merogoh kantong pribadi mereka. Keduanya berkata akan meminjamkan USD124 juta atau Rp1,77 triliun kepada perusahaan.

Terakhir, saham Modern Land tahun ini menurun hingga 50% dengan nilai pasar USD160 juta atau Rp2,28 triliun.

4. Sinic Holdings

Senin lalu, Sinic Holdings dilaporkan memiliki utang USD250 juta atau Rp3,57 triliun. Tenggat pembayarannya adalah tanggal 18 Oktober.

Rating Sinic Holdings oleh Fitch pun diturunkan menjadi C. Hal ini berarti perusahaan telah gagal membayar utang tetapi tak kunjung melakukan prosedur kebangkrutan atau likuidasi secara formal.

Tahun ini, saham Sinic Holdings menurun sebesar 90% dengan nilai pasar USD230 juta atau Rp3,28 triliun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini