Presiden Jokowi Tak Ingin BUMN Kecil, Harus Digabung agar Besar

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 14 Oktober 2021 13:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 14 320 2486209 presiden-jokowi-tak-ingin-bumn-kecil-harus-digabung-agar-besar-Ep0jZnAOvY.png Kementerian BUMN Ditugasi Lebih Banyak Gabungkan BUMN.( Foto: Okezone.com/BUMN)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan supaya ada lagi BUMN yang digabungkan dalam satu payung holding. Keinginan itu usai Jokowi meresmikan Holding BUMN Kepelabuhan atau penggabungan PT Pelindo (Persero) I-IV.

Menurut Kepala Negara, BUMN dalam core business atau klasterisasi yang sama, namun terpisah-pisah membuat kekuatan bisnis perusahaan menjadi minim. Justru, merger atau penggabungan perseroan diyakini menjadi kekuatan ekonomi baru Indonesia.

"Inilah yang kita harapkan perusahaan-perusahaan yang lain juga seperti itu. Sampai kecil-kecil bertebaran sehingga kekuatannya menjadi minim baik dari sisi keuangan dan modal. Kalau bergabung seperti ini kekuatannya akan menjadi gede," ujar Jokowi, Kamis (14/10/2021).

Baca Juga: Erick Thohir Ingin Perbanyak Perempuan Jadi Direksi BUMN

Karena itu, Kepala Negara berharap perusahaan pelat merah lainnya mengikuti jejak Pelindo I-IV yang kini resmi berada dalam satu payung holding. "Tadi sudah disampaikan bahwa akan masuk ke 8 besar dunia (petikemas hasil merger Pelindo)," ungkap dia.

Ada sejumlah catatan yang diberikan Jokowi kepada Kementerian BUMN selaku pemegang saham perseroan. Pasca merger, Jokowi meminta agar Menteri BUMN Erick Thohir mendorong Pelindo Group masuk dalam supply chain global.

Baca Juga: Presiden Jokowi Cairkan PMN untuk PLN hingga Aviasi Pariwisata, Nilainya Fantastis

Untuk mencapai target tersebut, langkah awal yang dilakukan adalah mencari pasangan bisnis (partner) Pelindo yang memiliki networking atau jaringan bertaraf internasional. Dengan begitu, bisnis perseroan bisa terkoneksi dengan negara-negara lain di dunia.

"Saya juga minta saat ini di partner-kan. Carikan partner yang memiliki networking, yang memiliki jaringan yang luas. Hingga nanti terkoneksi dengan negara-negara lain. Artinya apa? Produk kita, barang kita bisa menjelajah kemana-mana, masuk ke supply chain global, gol nya ke sana," tutur dia.

Di dalam negeri, Kepala Negara meyakini, merger Pelindo akan menekan biaya logistik. Sebab, biaya logistik di Indonesia masih tinggi atau berada di level 23 persen jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang berada di kisaran 12 persen.

Keyakinan itu didasari atas penilaian bila Pelindo Group menjadi kekuatan ekonomi baru di Indonesia untuk menyeimbangkan pasar di sektor kelautan. Khususnya, menekan tingginya biaya logistik.

"Kita tahu biaya logistik negara kita dibanding negara tetangga kita masih jauh, tertinggal kita ini. Mereka biaya logistiknya hanya 12 persen kurang lebih, kita masih 23 persen. Artinya ada yang tidak efisien di negara kita," ungkap dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini