Presiden Jokowi ke BUMN: Cari Partner, Kita Harus Punya Mimpi Besar

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Minggu 17 Oktober 2021 06:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 17 320 2487477 kacau-ulah-bumn-bikin-presiden-jokowi-malu-dan-marah-besar-saya-sampai-ditanyain-Ap4cLP2NH6.jpg Jokowi Dibikin Malu oleh BUMN (Foto: Okezone)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengkritik kinerja sejumlah BUMN masa lalu yang tidak merespons investasi asing.

Untuk itu, Jokowi meminta BUMN untuk mencari partner. Indonesia, kata Jokowi, memiliki prospek yang menjanjikan bagi banyak investor dan negara-negara di dunia. 

Pasalnya, Indonesia diprediksi menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-4 di dunia dalam jangka waktu 10-20 tahun mendatang. Hal ini membuat Jokowi percaya diri bila BUMN mampu bermitra dengan investor dari negara lain

"Kita memerlukan modal yang sangat besar, yang kedua memerlukan teknologi, itu yang kita belum memiliki kemampuan ke sana. Sehingga sekali lagi cari partner, banyak sebetulnya, tapi kita sendiri enggak pernah merespon sih," kata Jokowi saat memberikan arahan kepada 20 Direktur Utama (Dirut) BUMN seperti dikutip Youtube Setpres Jakarta, Minggu (17/10/2021).

Jokowi bercerita ada beberapa BUMN masa lalu yang dinilai lamban dan tidak memiliki respons apapun saat diberikan kesempatan bermitra dengan sejumlah investor asing dengan nail investasi ribuan triliun.

"Kita bukain pintu, enggak ada respon apa-apa ya gimana saya, kadang-kadang sering malu saya, udah bukain pintu, bukain pintu, tapi enggak ada respon ke sana. Investasi memang ribuan triliun, tapi kalau kita mau gede ya memang harus berpikiran gede. Kita mau gede, tapi mimpinya kecil ya gimana mau jadi gede," tegas Jokowi.

Jokowi bahkan mengaku malu terhadap Perdana Menteri India Narendra Modi saat kedua negara ingin menjajaki investasi di sektor kesehatan. Menurutnya, ada beberapa negara yang ingin menggandeng Indonesia sebagai mitra kerja sama di sektor kesehatan, termasuk Bangladesh dan India.

Pimpinan antara negara itu sudah membuka pembicaraan awal. Bahkan, Narendra Modi mengirimkan timnya ke Indonesia untuk menindaklanjuti kemitraan tersebut. Namun, kesempatan itu justru tidak direspons oleh manajemen BUMN.

"Yang urusan dengan kesehatan, bukain Bangladesh, bukain ke India, saya sendiri, Perdana Menteri Narendra Modi, di sini enggak merespon, gimana? Sampai tanyain dua kali ke saya, sudah ngirim tim ke sini, enggak ada tindak lanjut," katanya.

Padahal, ketahanan kesehatan Indonesia sangat penting bagi masyarakat. Jokowi menegaskan, infrastruktur dan fasilitas kesehatan Indonesia harus dibenahi secara total. Pasalnya, masih terdapat banyak kekurangan.

"Ketahanan kesehatan ini ke depan juga sangat penting sekali dengan pandemi yang kita hadapi sekarang ini. Mau tidak mau infrastruktur kesehatan kita, fasilitas kesehatan kita harus benahi total. Kelihatan sekali kekurangannya di sebelah mana, kelihatan sekali, kurang semuanya, yang paling cepat yang melakukan, mereform, ya BUMN," tegas Jokowi.

Alih-alih memanfaatkan kesempatan itu, BUMN justru acuh tak acuh. Padahal, Kementerian BUMN sebagai pemegang saham terus mendorong perseroan untuk mentransformasikan segala lini bisnisnya, khususnya menguatkan sumber daya manusia (SDM) hingga teknologi.

Jokowi mengakui Indonesia masih memiliki kekurangan di aspek tersebut. Artinya, perusahaan negara belum cukup kuat atau secara mandiri menggarap proyek dengan nilai investasi zombo. Maka dipelukan kerja sama dengan negara atau perusahaan lain yang secara kapasitas sumber daya mumpuni.

Sementara itu, Jokowi mencatat agenda transformasi BUMN tinggal 2 tahun lagi. Saat ini, Kementerian BUMN selaku pemegang saham terus merealisasikan agenda tersebut di sejumlah lini bisnis perseroan negara.

Implementasi transformasi BUMN, tidak semata-mata dilihat dari peleburan, restrukturisasi, hingga pembentukan klaster berdasarkan bisnis inti perusahaan. Namun, dilihat dari kontribusi BUMN terhadap perekonomian bangsa.

Presiden meminta agar Menteri BUMN Erick Thohir memaksimalkan waktu yang tersisa untuk merealisasikan agenda tersebut. Langkah itu sekaligus mendorong lompatan besar Indonesia di tengah persaingan ekonomi negara-negara di dunia.

"Kita ini balapan, kita hanya punya waktu dua tahun, bukan karena 2024, ndak. Memang kita hanya diberi waktu dua tahun, kalau mau negara ini mau melompat," ujar Jokowi.

Tercatat, selama 10 tahun terakhir, kontribusi BUMN kepada negara mencapai Rp3.290 triliun. Jumlah itu terdiri dari setoran pajak, PNBP, dan dividen. Meski begitu, pemegang saham meminta perusahaan tetap memaksimalkan kontribusinya untuk mendukung pertumbuhan makro ekonomi nasional.

Jokowi juga menekan pentingnya transformasi bisnis perusahaan berbasis digital hingga sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dimana, diperlukan satu ekosistem yang mengsinergikan antara teknologi, SDM, dan bisnis perusahaan. Kerangka ini diyakini mampu membawa BUMN agar berkompetisi di pasar global.

"Bagaimana menyiapkan SDM-nya, ekosistemnya, masuk ke adaptasi teknologinya, baru negara kita bisa melompat. Dan kita harus pontang-panting untuk itu," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini