Secara terpisah, Direktur Utama Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi mengatakan, dana IPO dibutuhkan mengingat kebutuhan investasi perseroan hingga US$ 2,5 miliar atau setara Rp 35,9 triliun dalam 5 tahun ke depan. Pasalnya, untuk mengembangkan pabrik amonia urea di Bintuni setidaknya membutuhkan hingga USD2 miliar dan sisanya untuk pengembangan pabrik perseroan di Bontang, Kalimantan Timur.
Di Bintuni perseroan akan memproduksi Methanol dengan kapasitas 1 juta ton per tahun dan pupuk urea dengan kapasitas 1,15 juta ton per tahun. Adapun untuk sumber dana, Rahmad menyebut senilai USD 500 juta bisa dicukupi dari kas perseroan. Sementara untuk USD2 miliar ini yang masih dipertimbangkan mengingat jika bersumber dari hutang dinilai akan sangat berisiko.
"Jadi kami buka berbagai peluang mungkin strategic partnership atau IPO yang tentu terus kami jajaki," ujarnya.
Sebagai informasi, PT Pupuk Kalimantan Timur sebagai produsen pupuk urea terbesar di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara mencatat capaian positif dengan kinerja produksi mencapai 5,15 juta ton atau 106% dari RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) Triwulan III 2021.
Disampaikan Rahmad Pribadi, capaian positif juga terlihat dari laba setelah pajak yang nilainya Rp4,19 triliun atau 288%,”Meskipun dihadapkan pada sejumlah tantangan pandemi, kinerja Pupuk Kaltim tetap stabil, dengan pendapatan tumbuh 8,5% di 2020, dan urea dengan kontribusi terbesar hingga 78% dari total pendapatan selama 2016 - 2020," ungkapnya.
(Taufik Fajar)