Harga Minyak Tak Lanjutkan Rally, Brent Turun Jadi USD84,6/Barel

Antara, Jurnalis · Jum'at 22 Oktober 2021 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 22 320 2489896 harga-minyak-tak-lanjutkan-rally-brent-turun-jadi-usd84-6-barel-mcpsqmG9rl.jpg Harga Minyak Dunia Anjlok. (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK - Harga minyak turun pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Hal ini dikarenakan aksi ambil untung setelah perkiraan musim dingin AS mengurangi reli kenaikan harga ke level tertinggi dalam tiga tahun di USD86 per barel, karena ketatnya pasokan dan krisis energi global.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember turun USD1,21 menjadi USD84,61 per barel, setelah mencapai level tertinggi di USD86,10 atau tertinggi sejak Oktober 2018.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember turun 92 menjadi USD82,50 per barel.

Baca Juga: Harga Brent Naik Setelah Arab Saudi Tolak Penambahan Stok Minyak

Menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional, cuaca musim dingin di sebagian besar Amerika Serikat diperkirakan lebih hangat dari rata-rata.

"Laporan tersebut, yang menunjukkan kondisi yang lebih kering dan lebih hangat di seluruh AS bagian selatan dan timur, memberikan tekanan pada harga minyak," kata Direktur Energi Berjangka Mizuho, Bob Yawger, dikutip dari Antara, Jumat (22/10/2021).

Harga minyak telah reli sejak Rabu (20/10/2021) ketika Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah dan bahan bakar lebih ketat, dengan stok minyak mentah di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma jatuh ke level terendah tiga tahun.

Baca Juga: Krisis Energi Buat Harga Minyak Dunia Bergerak Dua Arah

"Pedagang yang telah menetapkan 86 dolar AS sebagai ambang penjualan mereka mengambil kesempatan untuk mengantongi beberapa keuntungan. Akibatnya, harga minyak turun," kata Louise Dickson dari Rystad Energy.

Sementara itu, harga Brent tercatat telah meningkat lebih dari 60% tahun ini, didukung oleh peningkatan pasokan yang lambat oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya yang dikenal secara kolektif sebagai OPEC+, dan krisis batu bara dan gas global yang telah mendorong pembangkit listrik beralih ke minyak.

Minyak juga mendapat tekanan dari penurunan harga batu bara dan gas alam. Di China, batu bara turun 11%, memperpanjang kerugian minggu ini sejak Beijing mengisyaratkan akan melakukan intervensi untuk mendinginkan pasar.

"Dengan penurunan harga batu bara dan gas serta dengan indikator teknis indeks kekuatan relatif masih di wilayah overbought, kemungkinan penurunan tajam, tetapi harga minyak naik," kata Analis broker OANDA, Jeffrey Halley.

Namun, beberapa analis menyatakan minyak akan reli lebih lanjut karena OPEC+ kemungkinan akan tetap pada rencananya untuk peningkatan produksi bertahap sementara permintaan diperkirakan akan mencapai tingkat pra-pandemi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini