Pulang Kampung karena Ibu Sakit, Ini Kisah Peternak Sukses Punya Kambing Etawa Dihargai Rp300 Juta

Agregasi Solopos, Jurnalis · Senin 25 Oktober 2021 09:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 25 455 2491141 pulang-kampung-karena-ibu-sakit-ini-kisah-peternak-sukses-punya-kambing-etawa-dihargai-rp300-juta-FS4rvxU21q.jpg Suharno Peternak Sukses (Foto: Solopos.com)

JAKARTASuharno (41) pria yang tinggal di Dukuh Surowono, Desa Tangkil, Kecamatan Kemalang, Klaten, tersebut memilih terus mengembangkan usaha peternakan kambing etawa yang sudah dia geluti sejak tujuh tahun terakhir.

Suharno dikenal sebagai pembudi daya kambing etawa unggulan di Klaten. Kambing yang dia ternakkan berhasil menjuarai beberapa kali kontes. Ada seekor kambing yang dia ternakkan dan dijual hingga ratusan juta rupiah.

Sebelum menggeluti usaha sebagai peternak kambing, Suharno lama merantau di ibu kota. Selepas lulus SMK, Suharno bekerja di salah satu perusahaan percetakan di Jakarta. Baru enam bulan bekerja, Suharno merasa tak betah. Lantaran tak ada pilihan lain, Suharno memilih bertahan bekerja di perusahaan tersebut sembari menempuh pendidikan D3 jurusan desain komunikasi visual.

Selepas lulus kuliah, Suharno memilih pindah bekerja ke salah satu perusahaan konsultan desain dan arsitek selama dua tahun dan berpindah kerja ke agensi perusahaan rokok sebelum memutuskan membuka usaha sendiri di Jakarta.

Baca Juga: Wow! Warga Desa Jadi Jutawan karena Porang

“Pada 2010, bapak saya membuat kandang dan tertarik memelihara kambing etawa. Saya belikan tiga ekor. Waktu itu saya masih tidak peduli dan tetap merantau. Hingga pada 2013 saya disuruh pulang ke Klaten karena ibu sakit,” kata Suharno saat ditemui di sela kegiatan nyencang bareng di Dukuh Surowono, Desa Tangkil, Kecamatan Kemalang, Minggu (24/10/2021).

Bingung tak memiliki pekerjaan ketika di rumah, Suharno mulai melirik ternak kambing etawa. Awalnya, Suharno memelihara kambing etawa untuk memanfaatkan susu yang dihasilkan dan dijual seharga Rp15.000 per liter.

Pengetahuannya tentang ternak kambing etawa kian bertambah dan dia mulai tertarik untuk menjalankan usaha pengembangbiakan kambing etawa. Alasannya lantaran usaha di bidang pengembangbiakan memiliki nilai ekonomi tinggi ketimbang beternak kambing tersebut untuk diambil manfaat susunya.

Baca Juga: Berkat Porang, Warga Desa Jadi Kaya Raya hingga Bisa Beli Mobil

“Dulu kambing perah 15 ekor saya belikan kambing PE untuk bahan breeding jadi enam ekor,” kata dia.

Kian tahun usahanya kian berkembang. Kambing yang dia ternakkan juga beberapa kali diikutkan kontes. Suharno juga banyak dicari para peternak kambing etawa lantaran memiliki indukan kambing berkualitas. Dari semula enam indukan, Suharno kini memiliki 12 kambing etawa untuk indukan.

Cempe Rp12 Juta

Soal harga, Suharno menuturkan juga terus mengalami peningkatan. Semula harga jual cempe yang dia kembangbiakkan senilai Rp2,5 juta kemudian meningkat mencapai Rp5 juta. Belum lama ini, dia bisa menjual dua cempe dengan harga Rp38 juta. “Saat pandemi Covid-19 justru harganya melejit. Kalau dulu harga cempe Rp7 juta sekarang bisa sampai Rp12 juta. Saya tidak tahu penyebabnya apa,” kata dia.

Suharno mengakui salah satu kambing etawa pejantan miliknya dihargai hingga Rp300 juta. Bagi Suharno, harga itu sebanding dengan pengembangbiakan yang sudah dihasilkan.

“Kenapa kami kasih nilai segitu? Karena sebelumnya itu mengawinkan empat induk dan bisa terjual hingga Rp100 juta. Kalau pun nanti ada yang mau membeli dengan harga segitu [Rp300 juta], saya juga masih pikir-pikir. Karena penjantan itu jadi kunci [menghasilkan kambing etawa berkualitas],” kata dia.

Suharno berencana terus mengembangkan usaha pengembangbiakan kambing etawa miliknya. Dia kini memiliki satu pekerja yang bertugas mencari pakan ternak. Dia memiliki tekad bisa menggaet semakin banyak kaum milenial menggeluti usaha bidang peternakan terutama peternakan kambing etawa. Bagi Suharno, kambing etawa bisa menjadi investasi bernilai tinggi.

“Target saya bisa menggaet semakin banyak anak muda. kalau lulus tidak perlu pusing cari kerja, cukup jadi peternak kambing etawa. Di wilayah kami secara geografis memiliki sumber daya alam bahan pakan melimpah. Di wilayah kami juga zona tambang pasir yang tentunya nanti juga bisa habis. Saya khawatirkan kalau tidak berinvestasi di bidang lain, nantinya justru akan terjadi gejolak,” kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini