Share

Soroti Utang Garuda Indonesia, MUI: Bisa Ditutup dan Mati

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Jum'at 29 Oktober 2021 08:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 29 320 2493514 soroti-utang-garuda-indonesia-mui-maskapai-kebanggan-bangsa-sedang-dalam-kesulitan-GNmMYSO2Bs.png Keuangan Garuda Indonesia Disoroti MUI. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) ikut menyoroti masalah keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).

MUI melihat kebijakan Kementerian BUMN selaku pemegang saham hingga upaya efisiensi yang dilakukan manajemen emiten penerbangan pelat merah tersebut.

Seperti, restrukturisasi utang senilai Rp 70 triliun, hingga kesepakatan pemerintah tidak memberikan penyertaan modal negara (PMN).

Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas menilai, eksistensi Garuda Indonesia semakin terancam bila PMN tidak disuntik negara. Pasalnya, utang emiten yang bombastis dibarengi oleh income perusahaan yang kian terkontraksi.

Baca Juga: Restrukturisasi Utang dan Pertamina Jadi Penyelamat Garuda Indonesia

"Maskapai penerbangan Garuda yang merupakan kebanggan bangsa, kini sedang berada dalam kesulitan keuangan yang benar-benar sudah mengancam eksistensinya, karena kalau perusahaan milik BUMN ini tidak bisa mendapatkan suntikan dana segar, maka keadaannya tentu akan semakin memburuk bahkan bisa ditutup dan mati karena jumlah pemasukannya hanya sedikit," ujar Anwar dalam keterangan pers yang diterima, Jumat (29/10/2021).

Kondisi itu kian diperparah oleh capital expenditure (Capex) Garuda yang tercatat masih tinggi setiap bulannya. Keadaan itu sangat memprihatinkan.

"Karena kalau hal ini tidak bisa segera diatasi, maka tentu sudah pasti keuangan Garuda akan berdarah-darah dan bangkrut sehingga nyawanya tidak lagi bisa terselamatkan," kata dia.

Baca Juga: Diduga Liburan Pakai Fasilitas Kantor, Ini Pengakuan Bos Garuda Indonesia

Anwar menilai dua faktor penyebab Garuda di ujung tanduk. Pertama, faktor eksternal yang terkait pandemi Covid-19. Sepanjang pandemi berlangsung, pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat yang menyebabkan okupansi penumpang pesawat menurun drastis. Hal ini membuat income perusahaan menurun signifikan.

"Jelas sangat jauh berkurang, hal ini tentu akan sangat berdampak terhadap pemasukan dan pendapatan Garuda. Di samping itu keadaan juga diperparah oleh sikap para lessor asing yang sewenang-wenang dalam memberikan kredit dan itu kata Peter F. Gontha telah terjadi selama 2012-2016," ungkapnya.

Selain itu, kemampuan manajemen melakukan negosiasi dengan lessor asing dinilai tidak berjalan mulus. Akibatnya, nasib garuda nelangsa.

Sebab kedua adalah faktor internal. Anwar menilai manajemen dan karyawan ikut membuat keadaan keuangan perusahaan semakin terpuruk karena tidak mengambil langkah-langkah efisiensi secara agresif. Meski efisiensi mengakibatkan berkurangnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan karyawan.

"Sudah jelas aliran dana masuk sangat rendah semestinya mereka juga melakukan langkah-langkah yang signifikan dengan mengurangi pengeluaran perusahaan dan salah satu caranya yaitu mengurangi gaji dan fasilitas yang mereka pendapat selama ini," katanya.

Dalam konteks ini, lanjut dia, lemahnya semangat berkorban manajemen dan karyawan untuk melakukan sesuatu yang berarti dan bermakna terhadap perusahaan.

Padahal seperti kita ketahui pihak Dewan Komisaris karena mengingat kondisi keuangan perusahaan sudah sepakat untuk memberikan contoh dan mengusulkan penangguhan gaji anggota komisaris. Tindakan ini jelas-jelas tujuannya adalah dalam rangka meningkatkan efisiensi keuangan perseroan dan memberikan contoh serta teladan kepada para pihak direksi dan karyawan serta para pilot dan awak kabin agar juga mau melakukan hal serupa walau tidak persis sama," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini