Presidensi G20, Dunia Akan Pantau Pemulihan Ekonomi Indonesia

Ahmad Hudayanto, Jurnalis · Jum'at 05 November 2021 07:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 05 320 2497006 presidensi-g20-dunia-akan-pantau-pemulihan-ekonomi-indonesia-m4U3JfT1xd.jpg RI Dipercaya Jadi Presidensi G-20 di 2022. (Foto: Okezone.com/Setkab)

JAKARTA - Indonesia dipercaya memegang posisi keketuaan (presidensi) di G-20 tahun 2022. Kepercayaan ini pun mempengaruhi seluruh para pelaku ekonomi terhadap Indonesia.

Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal, Suminto mengatakan, kepercayaan memegang Presidensi G20 berarti kepercayaan terhadap kemampuan Indonesia dalam memulihkan diri dari pandemi. Di mana forum ini beranggotakan 19 negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar dan Uni Eropa.

"Di saat yang bersamaan, dunia akan memantau bagaimana Indonesia melanjutkan program-program pemulihan. Ini adalah kesempatan, sekaligus tantangan," ujar Suminto, Jumat (5/11/2021).

Baca Juga: Berbagai Negara Janjikan Investasi, Erick Thohir: Peluang Ini Harus Ditangkap

Selain itu, kepercayaan yang diberikan kepada Indonesia, akan mempengaruhi persepsi para pelaku ekonomi di tingkat internasional terhadap perekonomian dalam negeri. Kepercayaan tersebut diharapkan akan mempermudah upaya pemerintah untuk mengundang investasi dari luar negeri, yang akan berdampak pada percepatan pemulihan perekonomian Indonesia.

"Perhelatan yang rencananya akan digelar di Bali pada tahun depan itu, terdiri dari sejumlah pertemuan dari berbagai macam tingkatan, termasuk di tingkatan menteri dan di tingkatan kepala negara. Tentunya pertemuan-pertemuan itu, akan berdampak positif terhadap perekonomian di Bali, dan akan membuka banyak lapangan pekerjaan," jelasnya.

Baca Juga: Presidensi G20 Jadi Panggung Besar Tunjukkan Ekonomi RI Tahan Krisis

Adapun Presidensi G-20 2022 rencananya akan digelar di Bali. Tema yang akan diusung adalah "Recover Together, Recover Stronger," atau bahasa Indonesianya adalah "Pulih Bersama, Pulih dan Menjadi Lebih Kuat."

G20 sempat merespons shock non-ekonomi serangan teroris 11 September 2001, melalui kacamata kerja sama keuangan. Krisis finansial global pada tahun 2008, juga tidak luput dari pembahasan. Sifat responsif G20 masih dipertahankan hingga saat ini. Oleh karena itu, G20 fokus membahas pemulihan dampak ekonomi yang diakibatkan pandemi.

"Tema "Recover Together, Recover Stronger," yang diusung untuk pertemuan tahun depan, juga merupakan respon dari kondisi saat ini, di mana negara-negara di dunia masih berusaha memulihkan diri dari dampak ekonomi yang disebabkan pandemi, yang diyakini masih akan terasa hingga tahun 2022 mendatang," katanya.

Sebagai informasi, G20 juga dikenal sebagai forum yang lebih luwes dibandingkan forum seperti Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Ke-luwes-an yang dimiliki G-20 berbeda dengan lembaga formal seperti PBB yang sangat terikat dengan formal treaty. Oleh sebab itu, G-20 menjadi sangat adaptif dalam menyediakan kerangka pembahasan agenda tata kelola ekonomi global yang solutif dan akomodatif berbasis konsensus. Selain itu, G20 juga dikenal dengan kepatuhan para anggotanya melaksanakan kesepakatan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini