Share

Harga Sewa Pesawat Garuda Indonesia Akan Dibayar per Jam

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Selasa 09 November 2021 19:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 09 320 2499282 harga-sewa-pesawat-garuda-indonesia-akan-dibayar-per-jam-SRwO9dHv6u.jpg Garuda Indonesia (Foto: Okezone)

JAKARTA - Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo mengatakan pihaknya akan melakukan negosiasi ulang dengan lessor perihal skema harga sewa pesawat (leasing) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Kemudian, pemegang saham memberi opsi harga sewa pesawat dihitung berdasarkan pemakaian per jamnya.

Menurutnya, opsi tersebut sudah dibicarakan dengan sejumlah lessor. Harapannya, opsi tersebut sudah bisa direalisasikan setelah restrukturisasi utang emiten penerbangan pelat merah mencapai kesepakatan.

"Jadi di beberapa lessor sudah ada pembicaraan, mungkin kita merubah konsepnya (biaya sewa) dalam dua tahun pertama. Jadi tidak membayar fix, tapi yang dipakai, ini yang kita negosiasikan selama periode pemulihan itu diharapkan tidak dibayar fix, tapi tergantung berapa jam pesawat itu dipakai jam-jamannya," ujar Kartika, Selasa (9/11/2021).

Baca Juga: Penerbangan Garuda Indonesia Akan Semakin Langka, Ada Apa?

Di lain sisi, pemegang saham juga akan mengurangi jenis pesawat Garuda Indonesia dari 13 menjadi 7 jenis saja. Tiko, sapaan akrab Kartika mencatat, Garuda menjadi salah satu maskapai penerbangan dengan jumlah jenis pesawat paling paling banyak.

Padahal, jumlah itu justru membuat struktur keuangan perusahaan menjadi tidak efektif, sebab adanya kompleksitas pandaan yang dilakukan manajemen.

Baca Juga: Dinyatakan Bangkrut, Garuda Indonesia Masih Bisa Diselamatkan?

"Airline yang bagus itu punya 3-4 pesawat, nah di garuda mulai dari 777, ada A320, A330, SRJ ada ATR45, ATR75, jadi pesawatnya banyak sekali dan itu membuat kompleksitas dari pengelolaan maintenance sehingga akhirnya cost per seat-nya menjadi mahal," ujar Tiko.

Tak hanya itu, sejumlah rute penerbangan yang dipandang tidak menguntungkan secara bisnis pun akan ditutup. Termasuk, rute-rute penerbangan internasional pun dikurangi secara signifikan dan menyisakan volume kargo yang dinilai masih memadai.

Sebagai gantinya, pemegang saham mengalihkan (refocusing) rute internasional ke domestik. Upaya ini akan dilakukan secara masif.

"Kami juga menutup rute-rute yang rugi ini yang penting. Karena banyak sekali rute yang rugi yang di masa lalu belum ditutupi,' ungkap dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini