Sementara itu pedagang minyak goreng di Pasar Besar Kota Malang Avi Riskia mengungkapkan, bahwa omzet penjualannya juga diakui menurun beberapa bulan terakhir semenjak kenaikan harga minyak goreng tersebut. Bahkan jika biasanya ia bisa menjual tiga jirigen berukuran 15 kilogram, saat ini ia hanya bisa menjual satu jirigen saja.
"Sekarang mengurangi pasokan saja biar tidak rugi, sehari biasanya menjual tiga jirigen berisi 15 kilogram, sekarang satu saja sulit. Yang beli nggak ada, biasanya yang mborong penjual kerupuk - kerupuk, sekarang satu jirigen saja sehari sulit terjual," bebernya.
Perempuan berusia 42 tahun ini menerangkan, bila pembelinya kini beralih ke minyak goreng kemasan dengan harga yang lebih mahal, tetapi lebih praktis dan higienis.
"Banyak yang kejual yang kemasan, lebih praktis dan higienis yang kemasan, tapi kalau hitungannya lebih mahal yang curah hitungannya. Harapannya bisa segera diturunkan supaya penjualan minyak goreng normal lagi," paparnya.
Sedangkan Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang M. Sailendra menjelaskan, bahwa pihaknya tidak bisa melakukan operasi pasar mengantisipasi kenaikan harga minyak goreng, sebab harga dari pabrik produsen minyak gorengnya sudah mahal di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
"Belinya ke pabrik ini sudah harga tinggi, sehingga operasi pasar itu secara timing, waktu dan sasaran, kita harus berhati-hati, bisa jadi yang beli tengkulak - tengkulak, kedua waktunya mau natal tahun baru pasti akan naik, nggak bisa ditahan sesuai lebaran," jelas Sailendra.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.