Share

Utang RI Tembus Rp6.711 Triliun dan Sudah Izin ke Rakyat, Ini 4 Faktanya

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Minggu 14 November 2021 04:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 13 320 2501285 utang-ri-tembus-rp6-711-triliun-dan-sudah-izin-ke-rakyat-ini-4-faktanya-SkL2ZKz0uS.jpg Penjelasan mengenai Utang Indonesia yang tembus Rp6.700 triliun (Foto: Okezone)

JAKARTA – Kementerian Keuangan melaporkan posisi utang pemerintah mencapai Rp6.711,52 triliun sampai akhir September 2021.

Berikut fakta-fakta utang RI tembus Rp6.711 triliun yang dirangkum di Jakarta, Minggu (14/11/2021).

Baca Juga: Utang Garuda Rp139 Triliun dan Dinyatakan Bangkrut, Karyawan Bakal Kena PHK

1. Keputusan Melakukan Utang Sudah Koordinasi dengan DPR

Menteri Keuangan Sri Mulyani buka-bukaan soal kondisi utang Pemerintah. Menurutnya, dalam mengambil keputusan untuk melakukan utang sudah berkoordinasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sebab, utang ini dilakukan dalam mengurangi tekanan Covid-19 terhadap masyarakat kecil.

"Kalau penerimaan kurang untuk membiayai belanja yang begitu banyak, berarti kita ada defisit atau kurang, maka kekurangannya dibiayai pakai utang. Utangnya berapa dan dari mana saja, itu semua dibahas dengan DPR sebagai wakil rakyat. Jadi kita sebelum membuat utang secara tidak langsung menyampaikan ke rakyat melalui wakil-wakil tersebut," kata Sri Mulyani dalam video virtual.

Baca Juga: Sri Mulyani Jelaskan Alasan Utang Indonesia Tembus Rp6.711,2 Triliun

2. Bukan Sesuatu yang Diartikan Negatif

Sri Mulyani menjelaskan, utang bukan sesuatu yang diartikan negatif. Utang boleh dilakukan asal pengelolaan dan pembayarannya juga dilakukan dengan tepat.

"Bukankah utang itu jelek, nah untuk apa?Ada yang tanya, bu, kalau belanjanya saja dikurangi bisa? Bisa saja tapi kalau penerimaan kurang memang harus berutang," katanya.

3. Faktor Pendapatan yang Kurang, tetapi Belanja Negara Tetap Banyak

Utang Indonesia telah mencapai angka Rp6.711,52 triliun per September 2021. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani sebut utang datang karena faktor pendapatan yang kurang, tetapi belanja negara tetap banyak.

“Kalau penerimaan kurang untuk membiayai belanja yang begitu banyak, berarti kita ada defisit atau kurang, maka kekurangannya dibiayai pakai utang. Utangnya berapa dan dari mana saja, itu semua dibahas dengan DPR sebagai wakil rakyat. Jadi kita sebelum membuat utang secara tidak langsung menyampaikan ke rakyat melalui wakil-wakil tersebut," kata Sri Mulyani dalam video virtual.

4. Ekonom Sebut Sudah Lampu Merah

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, utang negara Indonesia sudah pada tahap memprihatinkan. “Utang negara kita ini bisa disebut sudah lampu merah, artinya sudah warning. Rasio utang pada PDB bisa meningkat juga ke depannya,” katanya saat dihubungi MNC Portal.

Lebih lanjut, Bhima menuturkan, yang perlu diantisipasi ketika pemerintah membutuhkan anggaran yang cukup besar terlebih penuh tantangan untuk mereduksi APBN, mau tidak mau jumlah utangnya akan bertambah.

Sebab, sebagaimana diketahui, pandemi Covid-19 belum usai dan dalam penanganannya masih membutuhkan dana yang tidak sedikit. Adapun hal ini akan memperlebar rasio utang pemerintah ke tingkat 70% PDB atau bahkan hingga 80% PDB dalam 2 sampai 3 tahun ke depan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini