Share

Waspada! Utang Luar Negeri RI yang Terus Naik Tembus Rp6.000 Triliun

Athika Rahma, Jurnalis · Senin 15 November 2021 18:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 15 320 2502198 waspada-utang-luar-negeri-ri-yang-terus-naik-tembus-rp6-000-triliun-uGrlQLwutO.jpeg Utang Luar Negeri RI (Foto: Okezone)

JAKARTA - Utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali meningkat. Tercatat ULN mencapai USD 423,1 miliar atau setara Rp6.000 triliun (kurs Rp14.189 per dolar AS), atau melonjak 3,7%.

Meski disebutkan tetap terkendali, akan tetapi pengamat ekonomi Bhima Yudhistira mengatakan hal yang berbanding terbalik. Bengkaknya utang luar negeri ini dinilai perlu diwaspadai karena pertumbuhan utang pemerintah lebih tinggi dari uang swasta.

"Kalau utang pemerintah di periode yang sama naiknya 4,1%, sementara swasta cuma 0,2% di kuartal III 2021, maka ini pertanda pemerintah terlalu agresif mendanai pembangunan dengan utang," ujar Bhima kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Senin (15/11/2021).

Baca Juga: Ada AS dan China, Ini Daftar 5 Negara Pemberi Utang Terbesar untuk Indonesia

Bhima menggarisbawahi pertumbuhan utang riil sektor publik dengan riil ekonomi yang menurutnya tidak selaras. Buktinya, dengan utang jumbo, pertumbuhan ekonomi di kuartal ke III hanya mencapai 3,51%.

"Ini menunjukkan, peningkatan utang kurang berkualitas. Kalau utangnya produktif dan benar benar dibelanjakan untuk keperluan industrialisasi, konektivitas antar wilayah, penurunan biaya logistik maka bisa tercermin ke ekonomi," tandasnya.

Baca Juga: Tak Disangka! Utang RI Tembus Rp6.008 Triliun, Ini Biang Keladinya

Bhima juga menjelaskan soal klaim aman atas besarnya utang luar negeri tersebut. Menurutnya, Indonesia tidak berkaca pada krisis utang di negara lain, dimana utang jangka panjang tidak menjamin risiko defaultnya juga rendah.

"Kalau utang jangka panjang bertambah tapi kemampuan bayarnya rendah, default risk tetap besar. Itu kenapa pada saat tekanan eksternal naik, credit default swap (CDS) utang Indonesia ikut naik ke level 90,3 bulan Oktober, jauh lebih tinggi dibanding 61,4 per Februari 2020," jelasnya.

Lanjut Bhima, investor masih menganggap Indonesia memiliki risiko tinggi sehingga mereka meminta imbal hasil yang tinggi. Surat utang pemerintah indonesia tercatat memiliki imbal hasil sebesar 6,05 persen dengan inflasi 1,66%, yang artinya real rate of return dari investor mencapai 4,39 persen.

"Filipina saja memiliki CDS hanya 5,7% tingkat imbal hasil 5,17% dan inflasi sebesar 4,8%. Real rate of return atau keuntungan riil surat utang pemerintah filipina hanya 0,37%. Filipina kalah menarik karena pemerintahnya tidak seagresif Indonesia dalam berutang," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini