Sri Mulyani Sebut Dunia Habiskan USD19 Triliun Hanya untuk Covid-19

Antara, Jurnalis · Jum'at 19 November 2021 15:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 19 320 2504404 sri-mulyani-sebut-dunia-habiskan-usd19-triliun-hanya-untuk-covid-19-jF352WEN2f.jpg Biaya Penanganan Covid-19 Habiskan USD19 Triliun. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mencatat insentif secara global yang telah dikeluarkan untuk mengatasi dampak pandemi Covid-19 mencapai USD19 triliun baik dari sisi fiskal maupun moneter.

"Perekonomian dan keuangan dari sektor usaha serta perekonomian keseluruhan, begitu besar dampak Covid-19 sampai seluruh dunia melakukan countercyclical," katanya, dikutip dari Antara, dalam acara Kick Off Sosialisasi UU HPP di Jakarta, Jumat (19/11/2021).

Baca Juga: Dapat Izin BPOM, Kenali Keunggulan Vaksin Covovax

Sri Mulyani mengatakan, insentif global sebesar USD19 triliun itu meliputi dari sisi fiskal sebesar USD12 triliun dan dari sisi moneter mencapai USD7 triliun.

Indonesia pada tahun ini menganggarkan sebesar Rp744,77 triliun untuk membantu masyarakat dan mempertahankan dunia usaha di tengah tekanan dampak pandemi.

Baca Juga: 4,8 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Tiba di Indonesia Hari Ini

Anggaran yang hingga 12 November 2021 terealisasi Rp483,91 triliun itu masuk dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang sebenarnya telah diadakan sejak tahun lalu.

Sri Mulyani mengatakan langkah ini merupakan langkah extraordinary yang jika tidak dilakukan maka akan terjadi dampak maupun lonjakan yang jauh lebih besar.

Menurutnya, upaya global khususnya Indonesia saat ini telah membuahkan hasil mengingat dari sisi pengangguran dan kemiskinan mulai teratasi seiring ekonomi yang pulih.

“Alhamdulillah, saat ini sudah mulai menurun sisi pengangguran dan kemiskinan sebab ekonomi mulai pulih,” ujarnya.Dapat Izin BPOM, Kenali Keunggulan Vaksin Covovax

Dia berharap pemulihan ini dapat terus berlanjut pada tahun depan meski ekonomi sempat kembali tertekan pada kuartal III 2021 akibat varian Delta yang melonjak.

Di sisi lain, ia mengatakan di negara-negara empat musim seperti di Eropa, Jerman dan Amerika Serikat saat ini sedang mengalami puncak varian Delta tertinggi mengingat ada musim winter yang mendorong penguatan COVID-19.

"Ini tantangan nyata Covid-19 belum selesai namun kami akan terus menggunakan instrumen APBN bersama DPR merumuskan langkah-langkah dalam rangka bisa respons secara responsif, fleksibel, dan akuntabel," jelasnya

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini