Mantan Bos Unilever Kecewa, Sindir PM Australia soal Batu Bara

Ahmad Hudayanto, Jurnalis · Kamis 25 November 2021 23:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 25 320 2507374 mantan-bos-unilever-kecewa-sindir-pm-australia-soal-batu-bara-vwIOMcVgjA.jpg Mantan Bos Unilever sindi PM Australia soal penggunaan batu bara (Foto: Okezone)

JAKARTA – Mantan CEO Unilever Paul Polman merasa kecewa dengan keputusan Konferensi Perubahan Iklim (COP) ke-26 di Glasgow. Polman menganggap keputusan mengenai batu bara di COP26 berkesan ‘melunak’.

Namun dia berharap permasalahan mengenai penggunaan batu bara lebih dipertegas di KTT COP27 Mesir dan Uni Emirat Arab.

Yang mana dalam konferensi tersebut pada menit akhir India dan China bersikeras untuk merubah bahasa penggunaan bahan bakar fosil dari “tahap penghentian” ke “tahap penurunan.”

Baca Juga: Perubahan Iklim Sebabkan 'Perceraian' pada Pasangan Elang Laut

“Mengecewakan bahwa kami harus melunakkan kata-kata pada batubara untuk … tahap penurunan,” kata Paul Polman dilansir dari CNBC, Kamis (25/11/2021).

Bila keputusan tersebut masih sebuah persetujuan sementara, Polman berharap COP di Mesir dan Uni Emirat Arab.

"Jika itu adalah kompromi untuk sementara, semoga di Mesir atau di Abu Dhabi kami bisa ubah jadi tahap penghentian,” ujar Polman.

Baca Juga: 5 Jenis dan Manfaat Hutan di Indonesia, Jadi Paru-Paru Dunia

Dia juga mulai mengarahkan pembicaraannya ke Australia, negara yang masih memegang peranan penting batu bara.

“Australia juga harus menyadari itu, 56% batu bara, masih di negara itu,” katanya.

Polman juga mengatakan pernyataan Perdana Menteri Australia Scott Morrison tentang perdagangan batu bara yang masih bisa diurus dinilai tidak masuk akal.

“Dan bagi perdana menteri, Scott Morrison, untuk mengatakan pasar bebas masih terkontrol, itu sangat naif,” ujarnya.

Menurut data dari Australia, bahan bakar fosil menyumbang 76% dari total pembangkit listrik pada tahun 2020, dengan rincian batubara sebesar 54%, gas sebesar 20% dan minyak sebesar 2%. Dan di tahun 2019, batu bara berperan atas 56% dari total pembangkit listrik di Australia.

Namun kantor perdana menteri Australia tidak menggubris pernyataan Polman tersebut. Dan Morrison tidak meyakini COP 26 menghentikan penggunaan batu bara.

"Tidak, Saya tidak percaya itu terjadi, dan untuk semua orang yang bekerja di industri itu di Australia, mereka akan terus bekerja di industri itu selama beberapa dekade mendatang,” kata Scott Morrison.

Morrison juga mengungkapkan rencananya untuk mulai menghentikan penggunaan pada 2050.

“kami memiliki rencana yang seimbang untuk mencapai nol bersih pada tahun 2050,” ujarnya.

Berdasarkan data dari Badan Energi Internasional, penggunaan batubara untuk pembangkit listrik global pada 2019 adalah 36,7%.

Meskipun berperan penting dalam sumber listrik, batu bara memiliki dampak besar terhadap lingkungan.

Menurut Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat, mengungkapkan berbagai emisi dari pembakaran batu bara. Termasuk karbon dioksida, sulfur dioksida, partikulat dan nitrogen oksida.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini