Erick Thohir Bubarkan Forum BUMN yang Tidak Efisien

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Selasa 30 November 2021 15:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 30 320 2509681 erick-thohir-bubarkan-forum-bumn-yang-tidak-efisien-NKxaSw0olx.jpg Menteri BUMN Erick Thohir. (Foto: Okezone.com/BUMN)

JAKARTA - Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan siap forum BUMN yang tidak efisien bagi bisnis perusahaan pelat merah.

Erick Thohir mencatat banyak forum yang dibentuk insan BUMN. Misalnya, Forum Hukum, Forum Keuangan, Forum Corporate Social Responsibility (CSR), hingga dua forum baru yakni Forum Human Capital Indonesia (FHCI) dan Forum Hubungan Masyarakat (Humas) BUMN.

Baca Juga: Kantongi Laba Rp61 Triliun, Erick Thohir Pede Penilaian Masyarakat ke BUMN Positif

"Saya juga baru dapat laporan ternyata di BUMN ini banyak forum juga. Ada forum hukum, ada forum keuangan, ada forum CSR saya pastikan saya bongkar, yang tidak efisien di forum-forum itu saya bongkar," ujar Erick, dikutip Selasa (30/11/2021).

Erick mencatat, forum BUMN harus mendorong program transformasi yang sudah dicanangkan Kementerian BUMN. Misalnya, Forum Humas harus bisa mengawasi pemberitaan negatif ihwal eksistensi BUMN di mata publik.

Baca Juga: Erick Thohir Ungkap Tak Mudah Satukan Visi BUMN

Forum Humas sendiri baru dikukuhkan Erick Thohir. Dian pun memberi sejumlah tugas yang nantinya dijalankan oleh kalangan humas masing-masing BUMN.

"Karena itu, sejak awal ketika saya sangat konsen dengan forum Human Capital, dan sekaran ini forum Humas, saya ingin individu yang ada di dalam punya visi dan sehati dengan kita, ini bukan politik. Ini kita menjaga daripada keseimbangan berbagai pihak. Dan kadang-kadang kita harus mengintervensi jika tidak ada keseimbangan," katanya.

Adapun tugas lain yang diemban forum Humas BUMN, memetakan cara pandang publik terhadap kinerja BUMN, dimana, adanya pemikiran positif dan negatif.

Lalu, memetakan perusahaan yang fokus pada bisnis dan pelayanan publik. Proses ini akan didiskusikan bersama pemegang saham.

"Saya ingin menunggu peta yang kita sepakati berdasarkan transformasi BUMN bahwa mana yang sangat korporasi, mana yang sangat pelayanan publik, mana yang kedua-duanya terjadi," ungkap dia.

Kemudian, melakukan brand positioning masing-masing perusahaan. Erick menilai langkah ini penting dilakukan untuk menghindari bentrokan kepentingan bisnis perusahaan di dalam ceruk pasar yang sama.

"Setelah peta, saya turunkan lagi masing-masing brand positioning daripada masing-masing perusahaan. Karena saya juga tidak mau yang namanya BRI, yang namanya Mandiri di kolam yang sama. Kan kita sudah bikin, begitu juga BNI, negitu juga dengan perusahaan BUMN lainnya, pasti ada brand positioning," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini